Rabu, 31 Desember 2014

Surat Hitam Tanpa Arti

Semua pandangan tertuju pada spidol yang berdecit-decit. Namun, tampaknya Vio sangat gelisah. Surat hitam baru saja jatuh di atas mejanya. Ia pun dengan curiga melirik ke kanan, kiri, dan belakang.
“Tidak ada wajah-wajah yang patut dicurigai.” Gumamnya lirih. Kemudian pandangannya kembali pada spidol dengan raut wajahnya yang masih penasaran terhadap surat hitam. Entah dari mana asal, untuk siapa, dan siapa pengirimnya. Tidak begitu jelas.

“Surat? Surat siapa?” tanyanya dalam hati.
Ia tidak berani menyentuh surat itu. Ia hanya menatap dengan penuh kecurigaan. Jantungnya berdebar-debar, keringatnya mulai mengalir, gelisah.

Ketika bel berbunyi, secepat kilat ia mengemas buku-bukunya ke dalam tas dan membiarkan surat itu berada di meja.

Sesampai di rumah, pikirannya masih terus dihantui surat hitam. Sepertinya ia sangat menyesal.
“Bodoh! Seharusnya ku ambil saja surat tadi. Hem, dasar bodoh!” pekiknya.
Ibunya yang hanya sepintas lewat tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.
“Bodoh? Eh, Butet, siapa yang bodoh?”
“Anu, Mak…” ia terlihat gagap ketika mata ibunya membesar 2 kali lipat dari matanya. Ia diam dan tertunduk.
“Brakkk,” ia menendang pintu sekuat tenaga lalu pergi begitu saja dan kembali ke sekolah. Ditatapnya surat hitam yang masih tergeletak di atas mejanya.
“Surat siapa sih?” perlahan-lahan dibukanya surat hitam itu. Tangannya bergetar hebat.
“Hati? Cuma Hati? Alamak! Kalau tahu gitu, mending tak usah ku buka deh!” ujarnya sambil meremas surat itu. Ia pun kembali ke rumahnya dengan perasaan kecewa. Ternyata isi surat itu hanya terdiri dari 4 huruf, yaitu; H, A, T, dan I. HATI!

Keesokannya, ia mendapat surat hitam yang sama. Dengan santai ia pun membukanya. Isinya masih sama, HATI. Keesokannya lagi, masih sama dan kembali diremas. Sampai akhirnya ia bosan dan melemparkan surat itu ke luar jendela. Upss! Tepatnya mengenai Tio, bekas pacarnya dua tahun yang lalu. Tapi aneh, dari kejauhan Rio terlihat geli ketika melihat surat hitam yang sudah diremas itu. Sedangkan dirinya masih bingung dengan arti surat hitam itu. Akhirnya ia menceritakan surat hitam itu kepada Rena.

“Oh, gitu! Emangnya sudah berapa kali kau menyakiti perasaan cowok?” tanya Rena.
Ia terbelalak dan merasa bahwa respon sahabatnya itu tidak nyambung dengan apa yang ia ceritakan.
“Ah, kau memang tak nyambung! Apa hubungannya coba surat hitam sama cowok?”
“Kau dengar dulu aku! Jadi tuh, aku pernah dengar, kalau hitam itu identik dengan cowok. Nah, kalau tulisan hati sih, mungkin si cowok itu pernah sakit hati kau buat. Hati-hati! Tulah kau, makanya jadi cewek itu jangan playgirl!” jelas Rena sok tahu.
“Alah, kau ini bisa saja. Aku ini kan Joset, jomblo setia. Aku mana pernah punya pacar.” Ujarnya sambil menjulurkan lidah. Ia seakan-seakan tidak mengakui adanya Tio di dua tahun lalu.
“Ah, terserah kau lah!” pekik Rena.
Ia hanya tertunduk bingung dengan arti surat hitam itu. Namun ia menduga bahwa surat itu ada kaitannya dengan Tio.
“Ha-ha-ha!” Rena tertawa geli melihat raut wajahnya.
“Kenapa kau?” tanyanya bingung.
“Sudahlah, itu hanya surat hitam tanpa arti. Ha-ha-ha, surat itu dari aku. Piss! Makanya jadi cewek jangan playgirl!”
Mulutnya menganga lebar tak percaya.
“Ah, dasar kau!”

SELESAI


Oleh : Sindi Violinda

Selasa, 30 Desember 2014

Rumah Baru Gua Berhantu

13 september 2013 Ini adalah hari pertama keluarga gue pindah ke rumah baru. Awalnya semua seneng banget, termasuk gue. Dalam fikiran gue, udah kebayang rumah baru yang bakal kami tempatin itu kayak gimana, soalnya mama sama papa udah pernah deskripsiin rumah itu sama gue dan adik gue. Setelah semua barang diangkat ke mobil Kami pun segera berangkat menuju rumah baru. Butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya kami pun sampai.

Dan ternyata, yaaa… gak salah pertama lihat aja rumahnya memang bener-bener keren dah. Meskipun rumahnya agak terpencil dan jauh dari jalan raya tapi pemandangannya luar biasa.

Setelah melihat-lihat lingkungan sekitar rumah, dan lanjuuut… Kami pun masuk ke dalam rumah menelusuri seisi rumah. Ternyata ni rumah lumayan gede. Jadi untuk mempersingkat waktu kami pun mulai membersihkan dan menata perabotan rumah. Gue bersihin kamar sama adik gue di lantai dua, papa menata ruang tamu, dan mama menata dapur serta kamar mereka.

Gak terasa hari sudah magrib dan akhirnya selesai juga beres-beres rumahnya. Lalu kami pun mandi dan mama menyiapakan makan malam. Setelah selesai makan kami pun berkumpul di ruang keluarga sambil menonton tv bersama.

Jam dinding menunjukan pukul 21:00 kami mulai ngantuk, mama sama papa lalu menyuruh agar kami tidur dan mengantar kami ke kamar. Kami pun tidur.

Tiba-tiba gue kebangun. Pas gue lihat jam, ternyata baru pukul 23:45, malam ini gue agak susah tidur karena suasana rumah baru agak berbeda, sangat dingin, mencekam dan sunyi. Gue pikir mungkin karena lokasi rumah yang lumayan jauh dari jalan raya dan daerah yang agak terpencil juga. Jelas beda aja sama rumah lama yang secara letaknya strategis banget, rame lagi.. Jadi gue enjoy aja.. Dan ngelanjutin tidur.

Kriiiing… kring… alarm berbunyi, gue dan adik gue bangun, lalu mandi, sarapan dan siap-siap ke sekolah.. Setelah pamitan sama orangtua kami pun berangkat ke sekolah.

Sepulang sekolah gue dianterin sahabat gue pipit ke rumah, karena dia mau main di rumah baru gue. Sampai di rumah ternyata mama, papa sama adik gue pergi ke mall. Jadi cuma kita berdua aja di rumah. Sambil nunggu mereka pulang gue sama pipit jalan-jalan ke kebun di halaman belakang rumah.

Tengah asyik main gue denger kayak ada suara gas full mobil di depan rumah, gue sama pipit langsung nyamperin ke depan karena gue fikir itu orangtua gue yang baru pulang.. Pas gue cek, gue kaget eh.. Ternyata kagak ada siapa-siapa.
Pipit bilang mungkin itu hanya halusinasi gue aja. Tapi gue ngerasa kayak mulai ada keanehan di rumah itu.

Setelah orangtua gue pulang gue nyeritain tentang kejadian aneh tadi siang sama mama papa tapi mereka cuma komen “mungkin kamu salah denger fah, buktinya udah seminggu kita tinggal di rumah baru ini mama, papa, sama adik kamu gak pernah ngerasa ada yang aneh, malah rumah ini nyaman banget menurut kami, kamu pasti ngerasa gitu juga kan..?” Gue pun ngejawab “bisa jadi ma!!!” tapi dalam hati, gue masih ngerasa mulai ada yang aneh sama rumah ini..
Ternyata benar seminggu ini adalah hari yang sangat menyenangkann buat keluarga gue, tetapi minggu selanjutnya adalah awal dari semua keanehan dan terror-terror yang menimpa keluarga gue!!

Bunyi gas full mobil yang gue denger itu mungkin berarti peringatan yang menandakan bahwa penghuni rumah itu mulai tidak senang dengan kehadiran kami.
“rumah ini berhantu”

Minggu ke 2, keanehan terjadi lagi.. Gue baru pulang les dan badan gue capek banget. Jadi gue baringan di sofa ruang tamu.. Selang beberapa menit gue lihet mama baru keluar dari kamar, dia nyamperin gue buat nyuruh gue makan, karena mama bilang dia udah masakin makanan kesukaan gue “rendang daging”. Tanpa pikir panjang gue langsung bergegas ke dapur buat makan. Tapi sampai di dapur gue lihat kondisi dapur acak-acakan, beberapa piring dan gelas pecah, dapur kotor seperti ada yang sengaja melakukan semua itu ditambah lagi di lantai banyak tetesan darah..!!! Gue kaget, spontan gue nangis dan langsung teriak manggil “mama!!!”

Mama gue langsung nyamperin gue ke dapur dan ia pun kaget ngeliat kondisi dapur yang hancur.
Sambil meluk gue mama langsung bawa gue ke kamar dan berusaha buat tenangin gue!

Mama telfon papa biar papa segera pulang, setelah papa pulang mama nyeritain semua kejadian tadi.
Gue lihat wajah mereka mulai cemas, tapi mereka berusaha menyembunyikannya, setelah mama sama papa ngobrol di luar mereka kembali ke kamar gue dan berusaha meyakinkan mungkin itu mungkin ulah kucing hutan yang nyari makanan.
Tetapi gue gak percaya, gue hanya nangis dan tiba-tiba gue ngomong “rumah ini berhantu maaa.. Paaa..!!! Mereka gak ingin kita tinggal disini, makanya mereka ganggu kita”
Waktu itu gue lihat mama sama papa ketawa mendengar kata-kata gue, mereka bilang gue terlalu banyak berfikiran negatif tentang rumah ini.. Padahal di balik tertawa mama sama papa gue lihat mereka menyimpan rasa takut dan seakan juga percaya bahwa rumah baru ini berhantu!!!


Teman 4 Hari

Ya, perkenalkan namaku keyl rumania chester. Tapi aku lebih sering dipanggil keyl. Aku berumur 10 tahun, aku tinggal di canberra bersama keluargaku, sebenarnya aku orang asli indonesia. Ya begitulah, ayah mengikuti pekerjaannya. Aku kesepian di rumah, karena aku di rumah berdua dengan mbokku yang juga ikut ke canberra. Nama mbokku mbok lilis. Aku tidak ke sekolah karena aku baru kecelakaan 7 hari yang lalu sebelum pindah kesini. Kaki ku diperban, tangan ku diperban. Aku jadi seperti mumi, hahahahaha, ya lanjutkan ke topik. Aku sedang tertidur di kamar sambil memainkan laptop ku. Tok-tok-tok. Ada orang yang mengetuk pintu, “yaaa… Masuk”, yang masuk adalah seorang anak laki-laki membawa 1 set kotak scrabbel, yang aku bingung, siapa dia? Aku bingung dan terus menatapnya, dan ia lalu duduk di tempat tidurku. “kamu pasti bingung siapa aku kan?” katanya dengan wajah heran, “yaa…” jawabku. “perkenalkan nama ku mike dan berumur 10 tahun, aku asli canberra, tapi aku bisa bahasa indonesia karena aku pernah sekolah 4 tahun disana dan rumahku di jl. Wadlles no. 67, aku mencari teman dan yaitu… Kamu” katanya sambil tersenyum. “hmmm… Tapi bagaimana kamu bisa masuk kesini?” “aku sudah izin ke mbok mu, mbok lilis kan?” “ya” jawabku.

Lalu mike mengajakku untuk bermain scrabbel, aku bilang ke mike bahwa aku tidak tahu cara bermain scrabbel. Lalu ia memberitahu cara bermain scrabbel, caranya kamu menyusun kata-kata dengan huruf yang tersedia, contohnya fish, lalu huruf f kamu sambung ke kiri atau kanan dengan kata contohnya found. Aku begitu cepat mengerti. Aku tidak menceritakan hal ini kepada orangtua ku begitu juga dengan mbok lilis.

4 hari pun berlalu, pada hari yang ke-5 mike tidak datang, padahal aku sudah menyiapkan kue kismis dan teh untuknya. Aku baru menceritakan hal ini ke orangtua ku. Aku meminta orangtuaku membelikan scrabbel dan ke rumah mike akhirnya… Terwujudkan. Aku membeli scrabbelnya di toko yang bernama kinderville. Lalu aku menuju ke rumah mike menggunakan mobil hadiah ku waktu ulangtahun yang ke 8. Yang menyetir mobil ayah. Aku menuju ke rumah mike dengan kecepatan rata-rata.

Akhirya sampai juga. Ting-tong, aku menekan tombol bel yang ada di depan rumah mike. Keluarlah seorang ibu yang berumur kira-kira 32 tahun, mungkin itu ibunya mike. “maaf apakah saya bisa bertemu dengan mike?” “haaaa??? Siapa dia?” “bukannya dia anak ibu?” “tidak”. Lalu datang seorang nenek mungkin berusia 69, lalu nenek tersebut berkata, “mike dulu anak dari keluarga pemilik rumah ini, tapi 2 bulan sesudah tinggal disini dia kecelakaan dan meninggal, maaf ya nak”, kata nenek itu. Lalu aku jadi terpaksa pulang ke rumah dan menuju kamar menggunakan tongkat ku, sampai di kamarku aku berpikir, jadi dia siapa dong?


Dari Balik Jendela Kamar Hotel

Hotel yang ditempati oleh Sam bukanlah hotel bintang lima. Bisa dikatakan hotel yang ditempatinya adalah hotel berbintang satu. Itu terbukti dari kondisi hotel yang tidak begitu terawat. Banyak kamar yang ditutup karena tidak layak pakai. Tapi karena kondisi kamar mandinya masih bagus dan bersih, Sam akhirnya mau untuk menempati kamar nomor 9. Walaupun memang kalau diperhatikan, kondisi kamarnya sudah terlihat sangat lama dan tempat tidurnya pun sudah sangat tua. Terbukti saat Sam mencoba merebahkan tubuhnya di tempat tidur, timbul bunyi “kriek-kriek”. Sam terpaksa menginap di hotel ini karena hanya hotel ini satu-satunya yang berada di kota dimana dia harus meliput berita. Pekerjaan sebagai seorang wartawan dia tekuni sejak lulus dari kuliah.

Malam semakin larut, akan tetapi Sam belum tidur. Dia masih asyik dengan laptopnya dan sesekali melihat hasil jepretannya di kamera. Saat Sam akan menutup laptopnya, terdengar suara berisik dari luar Hotel. Sam pun segera menuju jendela untuk melihat apa yang sedang terjadi. Terlihat ada dua orang sedang berdiri di tepat di depan jendela kamar Sam. Mereka kelihatannya sedang membicarakan masalah serius. Terlihat dari raut muka mereka yang serius. Salah seorang di antara mereka bersandar pada tembok salah satu gudang yang berada tepat di depan jendela kamar Sam. Yang satu berbadan gemuk dengan topi hitam di kepalanya dan satunya lagi berbadan kerempeng dengan berambut cepak. Orang yang berbadan gemuk itulah yang bersandar di tembok gudang. Mereka tidak tahu kalau ada yang memperhatikan mereka yaitu Sam. Sam tetap pada posisinya. Tidak beranjak dari tempatnya semula. Karena dia curiga dengan dua orang itu. Sam mengambil kameranya dan mulai mengambil gambar, mereka dari balik jendela kamarnya.

Setelah setengah jam tidak terjadi apa-apa. Namun terlihat si gemuk menyalakan rok*k dan mulai menyulutnya. Malam itu memang dingin, mungkin rok*k bisa menghangatkannya. Mata Sam pun mulai terlihat mengantuk dan sesekali matanya terpejam. Dan setelah satu jam berlalu, seseorang berkumis dengan badan atletis menghampiri mereka berdua. Terlihat orang itu sangat galak. Terlihat bagaimana dia tiba-tiba menampar salah satu dari mereka. Orang yang ditampar itu ternyata adalah si kerempeng. Setelah ditampar, dia berlalu pergi. Sam pun dengan jeli memperhatikan apa yang akan terjadi. Dan setelah beberapa menit, tiba-tiba ada sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan mereka. Dan ternyata yang mengemudikan adalah si kerempeng. Dia membuka pintu samping mobil dan menurunkan seorang laki-laki yang ditutup matanya. Laki-laki itu tedengar berteriak-teriak tapi hal itu sia-sia karena mulutnya disumpal dengan kain. Laki-laki itu berbadan gemuk dengan rambut yang pendek. Tiba-tiba saja laki-laki yang berbadan atletis tadi langsung memukulnya. Sontak saja Sam kaget. Dia langsung mengambil gambar dengan kameranya. Si ateltis pun semakin gila memukulnya. Memang terlihat kasihan. Akan tetapi Sam enggan untuk keluar dan membantu laki-laki tadi. Karena dipikirnya dia tidak tahu masalah apa yang terjadi di antara mereka. Sam lebih memilih mengambil gambar dari balik jendela kamar.

Setelah selesai memukulinya, si atletis langsung menginstruksi para temannya yaitu si gendut dan si kerempeng untuk membawa laki-laki yang ditutup matanya ke dalam gudang. Dan yang membuat Sam kaget bukan kepalang adalah ternyata si kerempeng membawa pisau di tangannya. Sam pun ingin sekali melihat apa yang terjadi. Akan tetapi ketakutannya seakan mencegahnya. Apalagi dia adalah seorang pendatang. Dia lebih memilih tetap berada di balik jendela kamar.

Setelah kira-kira setengah jam, si atletis keluar di susul dengan si kerempeng dan si gendut. Akan tetapi laki-laki yang satunya tidak keluar. Sam tetap menunggunya. Dan setelah beberapa saat dia pun keluar tapi penutup matanya telah di buka. Kemudian menyusul ketiga orang yang telah menunggunya di mobil. Tiba-tiba dari sebelah kanan terlihat orang membawa kamera. Dan mereka semua tertawa bersama. Ternyata mereka sedang membuat film. Dalam hati Sam berkata “Sialan!!”


Lelaki Misteri di Tepi Telaga Dewi

Siapakah yang punya pengalaman misteri di puncak Gunung Singgalang? Sepertinya mungkin baru aku, atau ada beberapa di antara para pendaki yang pernah mendengar, melihat, atau bahkan berjumpa sesosok lelaki di tepi Telaga Dewi dalam temaram sinar rembulan di kawasan puncak Gunung Singgalang.


Kami bertiga akhirnya sudah sampai puncak Singgalang.
“Jam 1.30 ” Ucapku dengan napas tersenggal
“wuih ternyata udah sampai nih, Telaga Dewi” sambung Kenyud sambil menjerembabkan bokong di antara lintangan akar dan pohonan lapuk yang sudah rebah.
Kenyud dan aku tampak kepayahan, beda dengan Meeng yang seperti sudah terbiasa dan sudah hapal betul medan gunung ini.
“Eng, berarti kita udah sampai nih..?” imbuh Kenyud lagi sambil menenggak botol air mineral.
Yang ditanya hanya tersenyum dan mengangguk-angguk saja sambil menurunkan kerir yang nemplok menjulang dari punggungnya.

Kenyud, Meeng, dan aku Kunyan adalah nama rimba atau nama julukan tradisi anak pecinta alam, kami dahulunya adalah trio yang kompak di angkatan dan kepengurusan mapala kampus, namun akhirnya setelah lulus, kami dipisahkan untuk meneruskan jalan hidup masing-masing. 5 tahun sudah berjalan, aku dan kenyud malah sudah berkeluarga dan punya anak, tinggal Meeng seorang yang memang masih lajang sampai sekarang, aku dan kenyud menetap dan tinggal di kawasan yang sama di Ibukota, dan masih lumayan di antara kami berdua masih kerap ketemuan, aku di selatan kenyud di wilayah utara ibukota. Sedangkan Meeng, yang aslinya sebenarnya orang pesisir selatan jawa tengah harus merantau ke sumatra.

Kerinduan naik gunung bareng sebenarnya sudah lama kami impikan, tapi baru bisa terlaksana di akhir tahun ini, awalnya dari iseng-iseng Kenyud mendapatkan kontak dengan Meeng dari grup FB MAPALAKU lalu akhirnya dari email dan chating kami sepakat untuk mengisi libur akhir tahun untuk reunian sekaligus mengobati kerinduan hobby lama, dan atas saran Meeng yang kebetulan berdomisili di Sumatra Barat, kami diajak untuk mendaki Gunung Singgalang-Merapi, dengan memulai start dari Singgalang dahulu, alasan Meeng “Baiknya kita coba dari trek yang berat kalian masih pada kuat kagak?” tantangnya saat kami hubungi di bandara Minangkabau lewat ponsel.
“Ayo kita pasang tenda Dumnya kita langsung ngekemp disini saja” saranku sambil mencoba bangkit
“Jangan disini Nyan, terlalu dekat telaga” sergah Meeng
“Iya bener takut ada Tsunami, repot nanti pas besok bangun kita terapung dalam tenda di tengah-tengah telaga hahaha” canda Kenyud menimpali.
Meeng yang masih tampak bugar segera berinisiatif mencari lokasi yang pas, tampaknya cahaya bulan sangat membantu dalam menemukan pelataran yang sedikit lapang dan rata.
Setelah tenda tegak tanpa prosesi api unggun, serta makan dan minum lagi, kami langsung masuk tenda seolah terkena sirep oleh letih dan kantuk kami terlelap berhimpitan dalam kantong tidur masing-masing.


“Aduuh dinginnya” geliatku yang terbangun karena suhu udara yang entah berapa derajat celcius, terang saja kami pun tadi tidak sempat membuat api unggun.
Jam di HP ku baru menunjukan pukul setengah 3 pagi, masih jauh ke shubuh, ah karena terjaga aku justru tersiksa, mendadak perutku tiba-tiba mules oo.. tak tahan lagi, aku buru-buru menggeladah jaketku mencari senter dan mengambil tisu basah serta sebotol air yang tergeletak di sisi ransel, dengan tergesa keluar tenda lalu tersasak mencari rumpun semak yang terdekat.

Tempat nongkrongku agak terbuka sehingga bisa leluasa memandang ke arah tenda yang berlatar telaga. jarak posisi jongkokku ke tenda hanya berkisar 7 meter, dan sekitar 17 meter dari telaga sehingga komposisi ini menyuguhkan suatu pemandangan malam yang indah, dalam paduan temaram sinar rembulan, nuansa yang begitu eksotis namun misterius.

Hajatku pun sudah terpenuhi perut pun sudah terasa nyaman, seperti biasa bersih-bersih seadanya dengan tisu basah dan sebotol air mineral. Satelah itu aku berdiri dan melangkah kembali ke arah tenda, namun tiba-tiba aku dikejutkan oleh sesosok siluet tubuh lelaki yang berdiri anggun di tepi telaga “ah siapa ya.. pendaki yang baru datang kah.” tebakku.
“Ooi.. kemarilah..!!” sekonyong-konyong sosok lelaki di tepi telaga itu memanggilku.
“kemarilah.. kawanilah aku disini, mendingan kita menunggu pagi di tepi telaga ini..”
Aku agak ciut dibuatnya, namun ku coba menstabilkan diri dan menghampiri menyambut ajakannya.
“kenalkan Asen bang” kataku sambil menyebutkan nama asliku dan mendekat mengulurkan tangan
“Jagat” sambutnya hanya mengangkat tanganya setengah melambai.
“Sendiri aja Bang?” dia tidak menjawab malah berpaling membuang muka ke Telaga.
“O iya kami bertiga Bang, temanku berdua sedang tidur di tenda” basa-basiku yang juga tidak dipedulikannya membuatku bertambah keki.
Aku pun akhirnya hanya diam memperhatikan dia dalam jarak satu langkah di belakangnya, aku coba perhatikan sosoknya, perawakannya lumayan profosional dan ideal untuk ukuran pria dewasa taksiran usia di atas 30 tahunan, sayang aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena cahaya bulan yang temaram mulai tersamarkan oleh kabut pekat, dingin, basah, merembes di kulit wajah.
“Sobat, perhatikanlah telaga yang bening, dingin, nan elok ini adalah lambang pujaan dan harapan, yang menjadi angan setiap insan, karena sejatinya manusia adalah pendamba surgawi”
Dia mulai berkata-kata dengan kalimat dan gayanya yang bak seorang pujangga dengan membuka dan merentangkan kedua tangannya menghadap telaga dengan dagu sedikit tengadah, ah suatu suguhan teatrikal yang menarik komentarku dalam hati.
“Sobat, tahukah kamu tempat yang indah seperti ini, dahulu kala sering disinggahi para peri dari kahyangangan.” Lelaki itu diam memberi jeda.
Namun aku pun hanya diam terpaku memperhatikannya tanpa jawaban dan sanggahan, walau dalam hatiku merasa geli dan aneh, kok jadi tahayul begini seperti dongeng yang kubaca dalam cerita-cerita rakyat saja, tapi aku dibuatnya heran, dia seolah tahu apa yang terlintas dalam pikiranku.
“Iya sepertinya kamu pernah dengar legenda Jaka Tarub, ya seperti itulah dulu kala.. para bidadari atau peri, bahkan bisa dijumpai di siang hari, sekarang… ooh sulitnya, semenjak jaman ini sudah tidak punya lagi kesopanan, dimana-mana mata-mata mengintai, segala lokasi dijadikan sarana rekreasi, hingga tidak ada lagi privasi bagi para peri.” Tuturnya melebar dan emosional.
Lalu dia membungkuk, lalu jongkok menekuk lutut menengadah dan menghentak, berteriak serak
“Sudah beribu malam purnama aku berusaha datang ke semua telaga semarcapada, ooh.. akankah dia mau kembali untuk memaafkan kesalahanku dan memuji kesetiaanku” nada suaranya semakin sendu aku terbawa larut dalam teatrikalnya.
“ah siapakah yang di maksud Bang?” tanyaku tanpa suara, tapi seperti tadi dia seolah mendengar suara hati.
“dia adalah salah satu di antaraya, bidadari cantik yang kuperdayai oleh akal dan intrik yang licik.” Jawabnya sesal.
Aku bertambah heran, jangan-jangan ini lelaki titisan Jaka Tarub tebakku semakin ngelantur.
“o ya, kamu seorang pecinta alam bukan? Kau mencintai alam lestari? Maka perlakukanlah alam bak kekasih, cintai, jangan khianati, jangan eksploitasi.”
Aku tertegun diam, mencoba mencerna apa yang dikatakannya, ah apa iya aku seorang pecinta alam, rasanya belum. Aku baru penyuka alam, hanya penikmat keelokannya, pengagum keindahannya, baru sebatas itu komitmenku, sekedar merindukannya, merindukan alam lestari.
Betul-betul aku malu sendiri, kata tersiratnya betul-betul menikam, memang benar kebanyakan manusia sekarang datang ke alam hanya untuk senang-senang belaka, berekreasi, lalu tanpa malu dan rasa bersalah mengotori dengan sembarangan membuang sampah-sampah kemasan, hingga ke sampah keji ‘maksiat’. Berbeda dengan manusia dahulu, yang menjadikan gunung, rimba, goa, Sungai, sebagai guru mencumbunya dalam sikap semedi, refleksi, olah rasa dan pikir ‘mentadaburi’.
Dalam hanyut merenung, tiba-tiba ada tangan yang dingin dan kuat menepuk dan menggoncangku.
“hei ngapain, tidur apa ngelamun ..?” Serunya.
“Astagfirullah,” pekikku terkesiap menatap kenyud yang tegak di sampingku.
“Si Meeng, si meeng mana Nyan..” tanya Kenyud sambil mengambil posisi jongkok ke arah telaga.
“bukannya ada di tenda” kataku heran sambil melihat kesana kemari memastikan keadaan sekitar.
“engga liat tuh, mungkin pergi setor di rumpun adelwis hehehe, ayo kita sholat shubuh duluan aja.” Candanya ringan tanpa beban.
Aku sendiri masih dibuatnya bingung dan terkesima dengan kejadian yang barusan dialami, kemanakah lelaki itu perginya.., halusinasikah aku, atau… Hiiy bulu kudukku mulai berdiri, aku pun tergesa-gesa segera berwudhu.


Geng

Aku memasuki halaman sekolah baruku, SMA Triguna Utama, dengan hati cemas. Aku takut kalau-kalau aku tidak bisa mendapatkan teman di sekolah itu. Saat itu hari pertama masuk sekolah bagi para murid baru di sekolah itu. Suasananya sangat ramai, tapi tak ada seorang pun yang ku kenal. Aku berdiri mematung di depan gerbang sekolah. Sampai akhirnya aku melihat seseorang yang sepertinya aku kenal.
“Lo, anak SMP 3 kan?” tanya anak itu padaku.
“Iya,” jawabku singkat. Aku mengenal anak itu. Ia teman sekolahku sewaktu SMP, tetapi tidak sekelas.
“Bareng yuk, masuk!” ajaknya. Aku pun menuruti ajakannya, daripada bengong di depan gerbang.

Sampai di dalam, kami para murid baru dikumpulkan di sebuah ruangan. Aku kebingungan sendiri. Temanku yang tadi, sudah sibuk berkenalan dengan anak-anak lain. Sementara aku sendiri malu untuk mengajak kenalan mereka. Sebenarnya banyak yang mengajak aku kenalan, tapi aku selalu lupa nama-nama mereka.

Sewaktu MABIS, aku duduk sebangku dengan seorang anak bernama Metria. Walaupun duduk sebangku, kami berdua jarang ngobrol. Aku memang sulit untuk akrab dengan orang baru.

Hari pertama kegiatan belajar-mengajar dimulai, aku duduk di tempat yang sama dengan tempat dudukku sewaktu MABIS. Tetapi Metria, teman sebangkuku sewaktu MABIS, tidak lagi duduk di sebelahku. Ia pindah duduk di depan. Tak lama, ada seseorang yang menghampiriku.
“Boleh nggak gue duduk di sebelah lo?” tanya anak itu.
“Ya, terserah,” jawabku jutek.
Setelah pelajaran dimulai, kami kemudian berkenalan.
“Gue Nina,” kata anak itu menyebutkan namanya.
“Novi,” jawabku.
“Lo dari sekolah mana?” tanyanya lagi.
“SMP 3 Ciputat,”
Tapi aku tidak bertanya-tanya lagi. Aku malas buat bertanya balik.
Setelah sekian lama, aku jadi cukup akrab dengannya.
“Vi, lo mau ikut ekskul apa?” tanya Nina ketika Pak Sumaji memberikan informasi tentang ekskul.
“Nggak tau, ya… Nggak ada yang seru,” jawabku.
“Ikut rohis aja, yuk! Belajar baca Al qur’an… daripada marawis, lebih susah. Lagi juga katanya wajib,” bujuknya.
“Ya udah deh…” jawabku pasrah.
Tak hanya itu, aku juga akhirnya mulai mengenal Meri, Sari, Friska dan Mia. Mia yang cerewet, paling suka meledeki aku.
“Hoi, Sri Nina!” panggil Mia padaku.
Aku dan Nina menoleh ke arah Mia.
“Mia, nama orang jangan diganti-ganti, dong!” protes ku.
“Tau lo. Emang lo mau, nama lo gue ganti jadi Mia Arum?” balas Nina. Waktu itu Mia masih duduk sebangku dengan Arum.
“Hahahaha…” Mia ketawa.
“Yah, tuh anak bukannya mikir digituin, malah ketawa…” kataku.

Setelah Meri pindah pada pertengahan semester, aku mulai akrab dengan Arum, yang tadinya menurutku dia orang yang jutek. Di semester kedua, pertemanan kami semakin akrab. Suatu hari, aku, Nina, Arum dan Sari tengah asyik bercanda di depan kelas. Saat itu kami sedang menunggu anak laki-laki yang sedang sholat jum’at, karena sehabis itu kami akan praktek hafalan juz amma di masjid.
“Woi, sempit tau di tengah kalian berdua, badannya gede-gede,” Nina yang berada di tengah-tengah aku dan Arum mengomel sendiri. Ia pindah lalu berdiri di samping kanan Arum.
“Ya maklum namanya juga kebo,” kata Arum pada ku.
“Kalo gue kebo, berarti lo apaan?”
“Udah. Sesama kebo jangan saling berantem,” ledek Nina pada kami berdua.
“Ogah gue jadi kebo. Lo aja yang jadi kebo, Rum,” tolakku.
“Eh, mending kita panggil nama kita pake nama itu aja!” usul Arum.
“Oke, lo kebo ya, Rum,” kataku.
“Lah lo apaan? Banteng aja dah, ya?”
“Nanti gue bisa nyeruduk lagi,” elak ku.
“Terus lo jadi apaan, Nin?”
“Lo kambing aja, Nin,” usul arum.
“Hehehe… mentang-mentang gue kecil. Tapi gue nggak bau kan, kayak kambing?”
Kami bertiga tertawa.
“Eh, tuh anak jadi apaan ya?” tunjuk ku pada Sari yang tengah duduk sambil memainkan handphonenya.
“Dia mah sapi aja,” jawab Arum asal.
“Hahahahaha…” kami bertiga tertawa.
Sari menoleh pada kami bertiga. Ia curiga kalu kami menertawai dia.
“Kalian pada kenapa?” tanyanya polos.
“Nggak, nggak kenapa-kenapa kok..”
“Ada yang aneh sama gue?” tanyanya lagi.
“Nggak kok. Ge-er banget sih lo…” kata Arum.
“Jadi gini lo, Sar… kita lagi cari nama panggilan yang unik. Si Arum jadi kebo, Novi jadi banteng, gue jadi kambing, nah kata Arum lo jadi sapi…” jelas Nina.
Sari manggut-manggut agak nggak ngerti.
“Terus, nama kelompok kita apaan, nih?”
“Hmm… kalau nama kita binatang semua, gimana kalau bahasa inggrisnya binatang, animal?” usul Nina.
Semuanya mendelik.
“Animal ya? Lucu juga,” komentar Arum.
“Ya udah, itu aja,” kata Sari.
“Terserah kalian aja, deh,” kataku. Selama ini aku nggak pernah main genk-genk an kayak gitu.

Jadilah pada hari itu, nama animals. Biarpun namanya binatang, tapi kami tidak bertingkah seperti binatang yang suka nggak nurut dan bertindak semaunya. Kami tetap menjadi anak yang rajin, saling membantu dalam hal positif, dan tidak mencari-cari masalah. Aku senang dengan teman-temanku sekarang. Mereka semua baik dan kompak. Semoga pertemanan kami tidak terpecah sampai nanti kami lulus dan berpisah.


Oleh : Nur Fajrina

Aku dan Aling

Batu tempatku berdiri ini masih sama seperti dulu, tak terkikis dengan hantaman ombak yang berulang kali menerpa. Sama seperti ingatanku akan kenangan-kenangan yang ada di pantai ini, di batu ini. Seperti dulu, suara ombak adalah favoritku, aroma laut seperti mengantarku kembali ke masa lalu saat laut ini masih bersih tanpa ada kapal-kapal pariwisata seperti sekarang. Kupejamkan mata dan kurasakan angin menerpa lembut raga yang sudah mulai menua dimakan oleh waktu ini. Suaramu sayup-sayup terdengar di telingaku, aku tau ini tidak nyata, hanya ilusi yang sengaja laut berikan padaku untuk tetap mengenangmu meskipun telah empat puluh tahun berlalu. Suaramu itulah yang membawaku kembali ke tempat ini, tempat kenangan kita dulu.


“Hey, Agam! Ah payah kau, lari saja lama sekali,” Aling yang sudah berdiri dengan gagahnya di atas batu tempat kita biasa menghabiskan sore, meneriakiku supaya berlari lebih cepat. Aling memang seorang perempuan, tapi jangan diragukan lagi, larinya bagaikan maling, gesit dan cepat sekali. “Cepatlah! Lihat, airnya jernih sekali,” teriaknya sekali lagi. “Kamu kan tau, Ling, aku tidak bisa lari cepat,” jawabku sambil terengah-engah. “Makanya olahraga dong, kamu di rumah saja sih kerjaannya, jadi sekalinya lari langsung capek begini,” aku tidak sempat lagi menanggapi komentar Aling. Aku langsung terduduk di atas batu yang besar ini. Bentuknya hampir mirip karang, tidak banyak orang yang tau lokasi batu ini karena tempatnya yang jauh dari keramaian pantai. Dari batu ini, aku dan Aling sering menghabiskan sore sambil melihat matahari terbenam. Airnya yang jernih dan ombaknya yang hangat membuat kami senang berlama-lama di sini meski hanya sekedar duduk mengobrol atau memungut sampah yang mengambang di permukaan.

Aling adalah seorang gadis berdarah campuran Jepang-Indonesia. Sebenarnya, namanya adalah Aiko, tapi seperti yang sudah kukatakan tadi, ia bisa berlari secepat maling, jadi banyak teman-teman yang memanggilnya “Aling” alias “Aiko Maling”. Bukannya tersinggung, Aiko justru senang-senang saja disebut seperti itu, “Justru dengan begitu teman-teman akan selalu ingat aku ‘kan, Gam.” begitu katanya.

Sejak kecil, kami sudah bersahabat karena kami adalah tetangga. Saat pertama kali Aling datang ke rumah, aku heran melihat pipinya yang bersemu merah dan kontras sekali dengan kulitnya yang putih pucat. Sedangkan aku, yang murni berdarah Jawa berkulit coklat, belum pernah melihat gadis cilik seperti Aling. Seperti boneka, batinku. Beda dengan diriku yang masih malu-malu saat disuruh berkenalan, Aling justru tanpa malu-malu mengenalkan diri padaku. “Namaku Aiko, kata mama itu artinya kasih sayang,” begitu katanya dengan sedikit logat yang menurutku aneh.

Tak disangka-sangka, ternyata aku dan Aling sama-sama memiliki kekaguman khusus dengan laut. Apalagi, laut di daerah kami sangat indah. Airnya jernih, ombaknya hangat dan suasananya pun menenangkan. Dulu, aku sering pergi sendiri ke tempat ini hanya untuk sekedar duduk-duduk menghabiskan sore sambil memejamkan mata dan mendengar deru ombak. Namun sejak ada Aling, semuanya berbeda.

Pernah suatu sore sepulang sekolah, aku merasa frustasi karena banyak temanku yang mengejekku dengan sebutan ‘gendut’. Karena sedih, setelah bel sekolah berbunyi, aku segera melesat pergi menuju ke batu tempat aku biasa menghabiskan soreku. Sambil menangis, aku berlari, tak sadar bahwa di belakangku ada mata penasaran yang mengikutiku dengan sepeda kecilnya. Sesampainya aku di sana, aku segera terduduk dan memeluk lututku sambil menangis. Aku tidak bersuara, sebab malu jika dilihat orang. Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundakku, dengan perasaan kaget aku melihat ke atas, dan di sana aku lihat Aling berdiri. Kulitnya yang pucat diterpa matahari, rambutnya yang halus tertiup angin laut, wajahnya mengulas senyum hangat sehangat matahari sore saat itu.

“Kamu kenapa menangis? Boleh aku duduk di sini?” katanya dengan setengah menunduk. Aku hanya mengangguk, dalam hati aku bertanya-tanya, kenapa dia bisa sampai di sini? Ah sudahlah, aku kembali memeluk lututku. “Pasti kamu diejek sama Rino ya? Rino yang iseng itu loh,” Aling diam sesaat. “Sudahlah biarkan saja, kamu tau kan namaku Aiko, tapi karena lariku kencang, aku dipanggilnya Aling alias Aiko Maling,” Aling tertawa. “Tahu siapa yang panggil aku begitu? Itu tuh, si Rino dan teman-temannya itu. Aku tidak marah sama Rino, karena memang aku kalau lari seperti maling, dan justru dengan begitu teman-teman akan selalu ingat aku ‘kan, Gam?” aku tahu Aling mengalihkan pandangannya ke laut, tangannya mengelus-elus pundakku dengan lembut, “Sudahlah jangan menangis, lihat pemandangan di sini indah sekali, sayang kalau kamu ke sini hanya untuk menangis.” Sesaat hanya terdengar sisa-sisa tangisku yang belum hilang. Namun entah kenapa, karena ada Aling aku merasa tenang, kemudian berhenti menangis.

Sejak saat itu setiap sore aku dan Aling selalu pergi ke pantai. Mulanya aku merasa canggung karena terbiasa sendiri jika di pantai, tapi hangatnya pribadi Aling menghilangkan rasa canggung itu. Aling adalah seorang pemberani, dia sering berdiri di ujung batu, sementara aku takut melihatnya jatuh. Dia selalu tertawa, sangat berbeda dengan aku yang pendiam dan lebih suka tersenyum. Kehangatan Aling seperti penyakit yang menulari setiap orang yang ada di dekatnya.

“Hey, melamun saja kamu ini, lihat itu, lautnya indah sekali, ombaknya hangat. Coba kalau kamu lihat terus-menerus, laut itu seperti memberi pesan ketenangan kepada setiap penikmatnya,” celoteh Aling. “Aku senang sekali tinggal di sini, Gam. Alamnya indah, apalagi pantainya. Aku selalu kagum melihat ini semua, bayangkan, Tuhan bisa menciptakan sesuatu sesempurna ini. Andaikan semua manusia seperti kita, pasti alam akan selalu seperti ini, indah dan menenangkan. Ya, ‘kan, Gam?” Aling menoleh ke arahku, air mukanya bersemangat, “Ya, Ling. Berada di sini membuatku sadar bahwa alam juga butuh dijaga, siapa manusia yang sanggup merusak keindahan seperti ini.” Kemudian hening. Aling berdiri dan berjalan ke ujung batu. Dia kemudian merentangkan tangannya. Sambil berdiri, ia menghirup udara dalam-dalam. Kebiasaan ini selalu dilakukan Aling sebelum kami beranjak pulang. Sore itu sebelum kami pulang, Aling berkata, “Gam, kamu harus selalu datang kemari ya. Lihat-lihat, siapa tau ada perubahan-perubahan yang tidak sempat aku lihat.” Aku hanya mengangguk sepintas kemudian berjalan pulang bersama Aling.


Seperti biasa, suatu sore sepulang sekolah, aku dan Aling berjalan bersama menuju ke pantai. Ada yang aneh hari ini, Aling berubah pendiam. Ia yang jalan di belakangku sambil menuntun sepedanya diam saja, tidak berkata apapun, padahal biasanya Aling selalu mengajakku ngobrol atau bercanda. Mungkin hari ini dia sedang ingin diam saja, batinku. Tak sadar, aku terus saja berjalan dan tidak menoleh ke belakang. Saat menoleh kulihat Aling berhenti jauh di belakangku. Dia tidak berdiri, melainkan jongkok di samping sepedanya, memeluk lutut. Dari jauh dapat kulihat tubuhnya yang bergetar, seakan-akan hendak menangis. Panik, aku segera berlari menghampiri Aling,

“Kenapa kamu, Ling?” tanyaku panik. Aling diam saja, malah makin erat memeluk lututnya dan makin bergetar pula tubuhnya. “Aling, ada apa sih? Bicara padaku, Ling.” Aling menggeleng. Makin bingung aku menghadapinya. Sebagai seorang laki-laki yang belum pernah melihat seorang perempuan menangis, aku hanya bisa ikut jongkok di sebelah Aling dan diam sambil memegang tubuhnya yang bergetar. Ada apa ini? Tidak biasanya Aling seperti ini. “Ya sudah, Ling, kalau kamu tidak mau kasih tau, tapi jangan nangis di sini. Ayo berdiri, kubonceng kamu sampai ke batu ya.” Aling menurut. Dia hanya berdiri tanpa berkata apa-apa dan kemudian naik ke boncengan sepeda.

Sesampainya di batu pun Aling tidak berkata apa-apa, dia hanya turun dan langsung duduk di atas batu sambil memeluk lututnya. Aku belum pernah melihat Aling menangis, murung pun jarang sekali. Ia hanya pernah murung sekali, seingatku, saat ayahnya bilang sepedanya akan dijual. Tapi itu pun hanya sehari karena keesokannya ayahnya bilang sepeda Aling yang lama akan diganti dengan yang lebih baru. Aku langsung duduk di sebelah Aling setelah memarkirkan sepeda. Awalnya aku ingin bertanya, tapi kuurungkan niatku. Lebih baik Aling menangis dulu sampai lega, baru jika ia bersedia menceritakan apa yang membuatnya menangis, ia bisa bercerita kepadaku.

“Gam,” tiba-tiba terdengar suara lirih Aling. Aku segera menengok dan mendapati Aling sedang menyeka air mata di pipinya yang merah. Tanpa sadar, tanganku refleks menggapai pipinya dan mengusap air mata di sana. Aling tidak berkata apa-apa, tidak juga menatapku.
“Ada apa sih, Ling? Tidak biasanya kamu menangis seperti ini.” Aling diam sejenak dan menarik nafas, “Papa akan pindah tugas, Gam. Dan seluruh keluargaku pun akan pindah,” aku kaget, namun tidak berkomentar apa-apa, “Sudah berapa lama kita bersahabat, Gam? Sepuluh tahun? Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan daerah ini, lautnya yang indah, ombaknya yang hangat, suasananya yang tenang dan kamu, Gam, sahabatku satu-satunya,” lanjut Aling, aku masih diam.

“Jika aku pindah, maka semuanya akan berbeda, Gam. Aku akan rindu sekali dengan alam ini, karena aku akan pindah ke kota. Tidak akan bisa lagi kunikmati sore-sore sepulang sekolah, berjalan menuntun sepeda ini di jalanan yang sejuk, dipayungi oleh pohon-pohon rindang di sepanjang jalan. Tidak akan bisa lagi aku duduk di batu ini menikmati deburan ombak dan aroma laut yang sangat aku suka. Tidak bisa lagi…” Aling menutup wajahnya dengan tangan dan kembali menangis tersedu-sedu. Aku jadi ikut sedih, ingin meneteskan air mata tapi kumalu. Jadi aku merangkul Aling dan berkata, “Kamu masih bisa ke sini, Ling. Jika kamu pindah, kapan-kapan datanglah ke rumahku dan kita bisa pergi ke batu ini seperti biasanya, aku akan menemanimu. Batu ini masih milik kita, tidak apa-apa, Ling.” Hanya itu yang dapat kukatakan sembari merangkul Aling. Sore itu kami habiskan dengan diam dan sesekali suara isak tangis Aling terdengar. Tidak ada satu pun dari kami yang berkata-kata, tapi kami berdua sama-sama menyadari, semuanya tidak akan sama lagi jika kami berpisah.


Hari-hari pun berjalan cepat, Aling seperti menjadi orang lain. Bagiku Aling jadi pendiam, meskipun keceriaannya tetap ada. Seminggu setelah Aling mengatakan akan pindah rumah, kami masih pergi ke batu sore hari sepulang sekolah. Aling lebih banyak diam, meskipun sesekali mengajakku mengobrol atau sekedar bercanda. Terakhir kali kami pergi ke batu di penghujung hari minggu sore itu Aling berkata padaku, “Benar ya, Gam, kamu antar aku ke sini kalau suatu saat aku pulang. Dan janji sama aku ya, Gam, kamu akan selalu ke sini, jagain lautnya. Jangan buang sampah sembarangan, kalau liat sampah pungut aja seperti biasanya kita lakukan.” Aku mengangguk dan menggenggam tangan Aling erat. Sedih rasanya, tapi aku tidak mungkin menunjukkannya di depan Aling karena itu hanya akan membuatnya makin sedih.

Untuk pertama kalinya aku berani berdiri di ujung batu ini sambil menggenggam tangan Aling. Aku menoleh, melihat wajah Aling yang sedang memejamkan mata sipitnya dan menghirup udara dalam-dalam. Wajahnya yang diterpa sinar matahari sore membuat pipinya bersemu merah, bibir mungil merah mudanya seperti berkata sesuatu dalam diam. Tak disangka tiba-tiba sebutir air mata mengalir dari sudut matanya. Aku terkejut dan tanpa disangka Aling berbalik dan memelukku, “Agam, aku pasti akan rindu dengan alam ini, laut ini, ombak ini, suara burung-burung camar ini, aroma laut ini, kamu dan teman-teman, dan semua ini, Gam…” Aling menangis di bahuku dan tanpa bisa kutahan lagi aku pun ikut menangis. “Kamu harus selalu kesini ya, Gam.” Lanjut Aling kemudian melepas pelukannya dan kembali menatap laut. Aku yang bingung hanya bisa merangkul Aling dan berkata ‘Aku janji, Ling’ secara samar-samar. Meski begitu, aku tau Aling pasti mendengar perkataanku.

Keesokan harinya, bertepatan dengan hari ulang tahun Aling, tiba juga hari Aling harus pindah. Ia sudah tidak terlihat sedih lagi, meskipun matanya bengkak dan aku tahu ia habis menangis semalaman. Sebelum pergi Aling memaksaku lari menuju ke batu untuk terakhir kalinya. Aling saat berlari tetaplah Aling yang dulu, cepat seperti maling. Sedih rasanya mengingat mungkin ini hari terakhir aku dan Aling berlari bersama menuju ke batu, tapi melihat wajah Aling yang secerah ini membuatku tak kuasa memperlihatkan wajah sedihku dan membuatnya ikut sedih juga.

“Agam, Agam, sampai kapan kamu mau lari selama itu? Cepat sini waktu kita tidak banyak!” Teriak Aling dari atas batu. Aku terngah-engah dan setengah menunduk bertumpu dengan lutut begitu sampai di atas sana, “Aku pasti kemari lagi laut!” teriak Aling berkali-kali, mengucapkan janji bahwa ia tidak akan melupakan laut ini apalagi membiarkan laut ini terbengkalai dan menjadikan aku sebagai jaminannya. Lucu memang melihat sebegitu dekatnya aku, Aling dan laut, namun beginilah adanya. Lautlah yang menjadi saksi bisu persahabatanku dengan Aling, suka dan duka dan kecintaan kami pada alam. Seperti mengerti akan kepergian Aling, ombak hangat menyapu kaki kami hingga sebatas betis, Aling jongkok dan memegang batu tampat kami biasa duduk-duduk, “Semoga kamu tidak terkikis ombak-ombak ini ya, Batu.” Kata Aling. Kemudian sekali lagi ia berdiri dan merentangkan tangan sambil menghirup udara laut dalam-dalam seperti biasanya sebelum kami beranjak pulang ke rumah. Sebisa mungkin aku melihat Aling lekat-lekat untuk terakhir kalinya, karena esok hari aku tidak akan bisa lagi melihat Aling bertingkah seperti ini.

Setelah itu waktu terasa cepat, Aling yang mengajakku pulang, pelukan terakhir Aling sebelum kami berpisah, aku bahkan memaksa ayah untuk mengantar Aling ke stasiun demi mengulur waktu tapi tetap saja terasa cepat. Sore itu setelah pulang dari stasiun, suara deburan ombak, kicauan burung camar, bunyi rem sepeda Aling dan tawa khas Aling bercampur jadi satu di dalam telingaku. Memunculkan siluet bayangan Aling yang sedang tersenyum diterpa matahari sore muncul setiap kali aku memejamkan mata. Membuat seorang laki-laki berumur 14 tahun sepertiku mengerti apa artinya rindu.


Tiga puluh satu tahun kemudian…

Sore hari aku bergegas menuju batu di pinggir laut itu. Hari ini adalah hari ulang tahun Aling, tepat tiga puluh satu tahun berlalu sejak kepindahan Aling. Entah mengapa aku masih setia menunggu Aling menepati janjinya untuk kembali lagi kemari dan duduk-duduk sore seperti yang dulu sering kami lakukan. Tiga puluh satu tahun berlalu sejak Aling pindah, tiga puluh satu tahun pula aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya, terakhir kudengar Aling pindah lagi ke Denmark 3 bulan setelah kepindahannya dari sini, dan tiga puluh satu tahun sudah Aling yang kunanti-nanti tak pernah kembali. Sesekali Aling muncul dalam mimpiku, berlari di depanku atau berdiri sambil merentangkan tangannya di atas batu ini. Aling yang berumur empat belas tahun, dengan rambut sebahunya, tawa khasnya dan pipi merahnya mentapaku.

Tiga puluh satu tahun sudah aku selalu bergegas pergi ke batu setiap hari ulang tahun Aling, berharap mungkin saat aku memejamkan mata, ada tangan yang menepuk pundakku seperti dulu saat Aling menepuk pundakku ketika aku menangis. Tapi nihil, tidak pernah ada. Hari ini aku kembali berdiri di atas bukit, merentangkan tangan. Tanpa sadar kebiasaan yang dulu sering Aling lakukan menjadi kebiasaanku juga. Kupejamkan mata dan kudengarkan suara ombak, kicau burung camar dan kuhirup aroma laut dalam-dalam. Cuaca laut saat ini sedang indah-indahnya, tidak banyak yang berubah setelah tiga puluh satu tahun meskipun beberapa restoran banyak yang telah dibangun dan daerah pantai di sekitar laut yang mulai dikembangkan sebagai daerah pariwisata. Tetap saja, setiap kali aku memejamkan mata dan menyatukan diriku dengan laut, bayangan Aling selalu muncul, tertawa, berlari dan merentangkan tangan di depanku.

Saat sedang mendengarkan deru ombak yang diiringi dengan kicau burung camar, kurasakan ada tangan kecil yang menarik-narik saku celanaku, terkaget, aku pun membuka mata, menengok ke bawah dan melihat seorang gadis cilik… wajahnya mirip Aling saat pertama kali ia datang ke rumahku. Aku kenal betul dengan wajah ini, hanya saja… ada apa dengan hidungnya? Ya, hidungnya sedikit berbeda dengan Aling. Apakah ini…

“Om, Om pasti Om Agam ‘kan? Temannya mama?” anak kecil itu berkata, matanya yang bulat polos menatapku. Temannya mama? Lalu siapa anak ini? Apakah dia… Anak kecil itu kembali menarik saku celanaku dan membuyarkan lamunanku, dari jauh aku lihat ada seorang laki-laki sebayaku mendekat. Aku yakin betul bahwa anak ini ada hubungan darah dengan Aling, garis matanya menyiratkan segalanya. Laki-laki itu semakin mendekat, kemudian berdiri berhadapan denganku, mengulurkan tangannya, “Perkenalkan nama saya Adry, suami Aiko. Mas pasti Agam, ‘kan, sahabat Aiko?” jadi benar dugaanku. Lalu, dimana Aling? “Perkenalkan juga, Mas, ini Aimee putri kami.” Lanjut laki-laki itu sembari menyuruh Aimee menyalamiku. Aku hanya tersenyum melihat Aimee. Ia betul-betul mirip dengan Aling. “Ada perlu apa datang kemari, Mas?” tanyaku dengan sopan. Laki-laki itu kemudian mulai bercertita…

Empat tahun yang lalu, sehari setelah Aimee lahir, Aling mengalami komplikasi yang membuatnya koma selama empat hari. Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga Aling tetap hidup tapi tuhan berkehendak lain, lima hari setelah kelahiran Aimee, Aling kembali kepada tuhan meninggalkan suami dan ketiga putrinya. Setelah kepeninggalan Aling, Adry memutuskan untuk membongkar lemari lama berisi berkas-berkas milik Aling dan menemukan album foto yang sudah usang. Ketika Adry membuka album itu, tertera judul yang ditulis dengan huruf kapital berbunyi “AKU, ARIA DAN LAUT” di sudut kanan bawah album itu ada tempelan cangkang kerang berwarna putih dan di atasnya ada gambar 3 burung camar dan gulungan ombak yang digambar dengan tangan. Adry membuka-buka album itu dan isinya adalah foto laut, ombak, pantai, burung camar, batu, langit sore, Aling sendiri dan aku. Adry menangis melihat album itu, kemudian ia mendekapnya, dan ternyata ada surat yang jatuh dari album itu. Surat dengan perangko kira-kira dua puluh tahun yang lalu, yang sampai saat ini tidak pernah dibuka oleh Adry.

“Karena itu aku datang kemari dan aku rasa surat dan album ini pantasnya disimpan olehmu, bukan olehku. Sepertinya ini sebuah pesan dari Aiko.” Begitu ujarnya menutup ceritanya sore itu. Langit mendung, berwarna kelabu seperti akan hujan. Aku mengajak Adry untuk mampir ke rumahku, tapi katanya tak perlu, tadi sudah mampir mencariku dan orang rumah bilang aku sedang pergi ke pantai. Adry dan Aimee akhirnya bergegas pulang, begitu juga dengan aku sambil memeluk album itu, menyusuri jalan dengan hujan gerimis dan angin laut yang dingin menusuk hingga ke tulang.


Sore itu hujan deras. Sampai di rumah, aku segera membuka album itu dan melihat wajahku dan Aling di sana. Foto pertama kami saat aku tercebur ke laut, bukannya membantu, Aling malah mengarahkan kameranya berbalik dan jadilah foto kami berdua dengan mukaku yang kusut. Hampir di setiap foto, wajah Aling selalu ceria. Ada satu foto saat Aling sedang berdiri merentangkan tangannya dan aku ingat betul siapa yang mengambil foto itu. Foto itu aku sendiri yang mengambil, sembunyi-sembunyi saat Aling sedang tidak melihatnya, tak kusangka foto ini dicetak dan dialbumkan oleh Aling. Di bawahnya ada tulisan, ‘Indah ‘kan alamnya? Aku suka sekali di sana, lihat langitnya begitu biru. Memang alam adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna.’ Tersenyum aku melihatnya, hingga foto terakhir kami di stasiun yang diambil oleh ayahku dengan keterangan ‘SAMPAI JUMPA LAGI, AGAM!’ tanpa sadar air mata menetes dari pipiku, menyadari bahwa kami sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk bertemu lagi. Kupeluk album itu sesaat, kemudian aku ambil surat di tengah halaman dan mulai membacanya,

“Teruntuk sahabatku, Agam,
Hai, apa kabarmu di sana? Semoga baik-baik saja ya. Kabarku di sini baik-baik saja. Aku sekarang ada di Denmark. Banyak sekali yang ingin aku tulis untukmu, Gam, tapi pertama-tama aku akan memberi tahumu satu hal, aku akan segera menikah! Iya, menikah! Dengan laki-laki bernama Adry. Ia orang Indonesia yang baik sekali. Ia juga mengenalmu, aku sering menceritakanmu padanya, dan ia ingin sekali berkenalan denganmu. Setelah menikah nanti, kami akan pulang ke Indonesia dan memulai hidup di sana. Semoga aku bisa kembali ke desa kota dan jalan-jalan ke pantai bersamamu ya, Gam.
Bagaimana keadaan laut? Apakah masih sama seperti dulu? Apakah batu besar itu masih ada di sana? Apakah kamu masih selalu kesana setiap sore atau mungkin hanya sesekali? Aku harap kau masih ke sana dan jangan lupa beritahu aku jika ada perubahan ya!
Aku rinduuuuuu… sekali padamu, pada laut kita, pada batu kita dan segalanya yang ada di sana. Aku harap tidak ada yang merusak alam indah ciptaan Tuhan di sana, sehingga saat aku ke sana nanti, aku masih bisa menikmati deru ombak, suara burung camar dan matahari sore yang hangat. Tentu saja bersamamu dan bersama keluarga kecilku nantinya. Tunggu aku ya, Gam!
Sekian dulu surat dariku, kuharap kamu membaca dan membalasnya. Mungkin surat ini sampai saat hari ulang tahunmu, jadi kuucapkan saja selamat ulang tahun, Aria, semoga panjang umur dan sehat selalu, sukses dalam menjalani hidup dan selalu ingat padaku. Sampai jumpa lagi!
Dari sahabatmu, Aling a.k.a Aiko Maling.”

Ya, Aling, sudah tentu aku mengingatmu dan selamat ulang tahun. Semoga kau bahagia di sana dan selalu mengingatku, doaku dalam hati. Kupeluk album itu tanpa bisa berkata-kata lagi. Aku bukanlah seorang bocah berumur empat belas tahun seperti dulu, namun setelah tiga puluh satu tahun berlalu, di usiaku yang sudah kepala empat ini aku masih bisa melihat bayangan wajah Aling setiap kali aku memejamkan mata diiringi dengan suara ombak, kicau burung camar dan hangat matahari sore. Aku bukan bocah berumur empat belas tahun lagi, tapi aku tidak bisa menahan air mata yang turun saat ini, mengingat bahwa Aling sudah tiada dan tidak mungkin ada jumpa lagi. Aku menangis hingga tertidur, mempikan Aling dengan pipi merah dan kulit putih pucatnya berlari sambil tertawa di depanku, dengan latar belakang laut biru kesayangan kami.


Aku membuka mataku yang basah oleh air mata. Aku selalu mengingatmu, Ling, batinku. Tak peduli jika ada orang yang melihatku bagaikan banci atau orang gila, aku segera menyeka air mata dengan tanganku yang sudah keriput. Rambut di kepalaku sudah banyak yang memutih. Pandanganku sudah kabur, namun tak sedikit pun kenangan tentang Aling kabur dalam benakku. Aku masih mengingatnya. Aku masih ingat teriakannya menyuruhku lari lebih cepat, bunyi rem sepedanya dan sudah tentu tawanya yang khas. Tempat ini selalu menjadi kenangan. Bagaimana pun perubahannya, Aling selalu hidup di tempat ini dan di hatiku. Bersama dengan deru ombak, kicau burung camar dan hangatnya matahari sore.


Kisah Kita

Hai kawan.
Masihkah kalian mengingatku? Mengingat kisah persahabatan kita yang telah kita lalui bersama, bertahun-tahun yang lalu. Persahabatan yang tak hanya penuh canda dan tawa, tetapi juga isak tangis dan derai air mata. Kisah penuh mimpi sederhana, langkah awal menggapai cita-cita. Disertai bumbu-bumbu cinta khas anak remaja. Ah, sepertinya aku telah terseret ke arus nostalgia. Baiklah, biar kuulang sekali lagi segala kenangan yang masih melekat di otakku, serasa baru saja kemarin aku mengalaminya.

Dulu, tiga belas tahun yang lalu, kita berlima bertemu di sebuah SMA, lima siswa baru yang dengan penuh semangat melanjutkan pendidikan dan mengganti seragam putih-biru mereka dengan seragam putih abu-abu, seakan-akan saat-saat memakai seragam itulah yang sedari dulu mereka nantikan. Lima orang asing yang awalnya tak saling mengenal, namun kemudian menyunggingkan senyum satu sama lain. Lalu perkenalan yang tak lagi bisa dielak, ditambah lagi, ternyata kita berlima ditempatkan di satu kelas yang sama. Aku yang pendiam. Hani yang cerewet. Rama yang pemberontak. Bunga yang feminin. Dan Adit yang jahil. Pribadi yang berbeda-beda. Asal dan latar belakang keluarga yang jelas berbeda-beda pula. Namun siapa sangka, justru karena itulah kita bisa bersama, merasa tak lengkap tanpa kehadiran seorang di antara kita berlima.

Lalu peristiwa-peristiwa tak terlupakan itu berlanjut, saat kita bersama menyelesaikan berbagai tugas di ‘markas’ kita –gazebo di belakang rumahku– ditemani buku-buku yang berserakan dan remah-remah kue dimana-mana. Saat kita menertawakan Bunga yang jatuh saat bermain ice skating. Saat kita tersenyum geli melihat Adit yang seolah tak ada habisnya mengerjai Hani. Saat kita hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Rama (lagi-lagi) dikeluarkan dari kelas karena membuat gaduh. Hal-hal kecil yang tak akan bisa kita ulangi lagi, hal-hal kecil yang membuatku merasa bahagia karena bisa merasakannya bersama kalian. Yah, sayangnya, semua yang kita lalui tak hanya kisah bahagia, namun juga kisah-kisah sedih, yang sekarang mulai berkelebat di benakku.

Kau ingat? Saat aku menangis bak anak kecil saat adikku mengalami kecelakaan. Lalu kalian mengelilingiku yang tengah menangis, tanpa mengucap sepatah kata pun. Merasakan kesedihan yang sama denganku. Membuatku merasa lebih baik setelahnya. Lalu saat Hani yang mendadak menjadi pendiam, tak mengeluarkan sepatah kata pun hingga jam istirahat tiba. Hal yang mengkhawatirkan kita, tentu saja. Dan ternyata, malamnya ia bertengkar dengan orangtuanya karena tak ingin kuliah di jurusan yang diinginkan orangtuanya. Juga saat Adit yang tiba-tiba memarahi semua orang, memaki, dan menyumpah-nyumpah. Dan kalian ingat apa penyebabnya? Ya. Seseorang telah merusak kap mobil kesayangannnya hinga penyok tak berbentuk. Ah, saat itu benar-benar kalianlah yang telah menjadi pembangun dinding-dinding pertahanan kami yang mulai runtuh. Membuat kami kembali kuat seperti sedia kala.

Dan, akhirnya tiba saat itu. Saat serbuk ‘cinta’ mulai ditiupkan dan menggelitik rasa. Saat-saat yang membuat segalanya berubah. Menjadi lebih baik, namun juga jauh lebih buruk. Membuat segalanya tak akan sama lagi. Mungkin memang benar. Tak akan pernah ada kata sahabat dalam cinta, begitu juga sebaliknya. Dan mungkin itulah mengapa ‘cinta’ tak seharusnya merasuk ke lingkaran persahabatan. Beberapa orang menganggapku paranoid, tapi, tentu saja, seperti yang telah kuduga, hal itu terjadi. Lingkaran yang tak lagi menjadi sebuah lingkaran yang utuh, entah ujungnya yang putus ataukah membelok, aku tak lagi memerhatikan. Yang ku tau, lingkaran persahabatanku tak lagi utuh.

Kalian ingat saat itu bukan? Tangis konyol karena merasa dikhianati, kepalsuan dibalik sebuah senyum. Ah, masa-masa tanpa tawa dan kebersamaan yang menyakitkan. Lalu perlahan semua mulai menjauh, satu sama lain. Hingga waktunya kita benar-benar berpisah. Berkelana, menjelajahi dunia yang sesungguhnya. Masih dengan keheningan yang menyakitkan. Ah, aku hanya bisa berharap segala kesalahpahaman ini kelak berakhir. Agar kita bisa kembali tertawa bersama. Menangis bersama. Karena sesungguhnya, kisah kita tak seburuk itu. Terlalu banyak kenangan indah yang sayang jika hanya dikubur dalam-dalam, dianggap memori yang tak perlu diingat kembali. Hei teman, ketahuilah, aku merindukan kalian. Merindukan kembalinya tawa di antara kita.

Seseorang yang akan
selalu menjadi temanmu


Febis

Bumi tak pernah memandang orang lemah, kurang, bahkan buruk. Tapi bumi tersenyum bagi orang yang tersenyum pada alam. Ketika itu juga matahari dan seluruh alam tersenyum pada kita. Bersyukur adalah salah satu kunci kepercayaan diri. Mimpi itu indah baginya, tapi sebaik-baik mimpi masih indah dalam kenyataan, karena semua mimpi itu sebagian ada dalam kenyataan. Dan kenyataan mengajarkan kita betapa indahnya pahit hidup yang harus kita jalani dengan tangan, kaki dan seluruh tubuh kita. Sebut saja Febis, nama yang aneh. Karena Febis lahir bulan Februari di hari Kamis. Kebiasaan sehabis bangun tidur Febis adalah melihat wajah kakaknya. Hobby yang aneh.

Tutututututu… jam weker Febis berbunyi. Hoaam… uapannya membuat nyamuk langsung pingsan karena bau mulut yang tak tertahankan. Bangunlah Febis dari tempat tidurnya menuju kamar kakaknya. Febis memandangi wajah kakaknya yang cantik rupawan bak artis Hollywood Emma Watson. Kakak Febis yang setengah sadar melihat bayangan gadis sedang berdiri di sampingnya dengan rambut yang urakan. “Aduuuuh, Febis kapan sih kamu pagi-pagi gak ke kamar kakak? Kakak hari ini libur Febis dan masih ngantuk”. “Kakak gak sholat?”. “Kakak lagi gak sholat sayang, udah pergi sana ilermu udah nunggu tuh buat dibersiin”. Pergi dengan mulut manyun dan piyama banananya yang gede.

Setelah kembali ke kamarnya dan mengerjakan sholat subuh, Febis mandi. Di kamar mandi Febis tak berani melihat wajahnya yang tak karuan. Selesai mandi, Febis sarapan dan di situ sudah ada mamanya. “Mah?” tegur Febis “Ya sayang” mamanya tersenyum untuk menyemangatkan sarapannya. “Menurut mama, aku cantik gak?” Tanya Febis. “Hemmm” mamanya menghela nafas dan tersenyum kecil. “Kok Febis Cuma dikasih senyum?”. ujar Febis “Sayang, setiap hari kau menanyakan hal ini” jawab Mama Febis. “Mama capek ya Febis nanya mulu?” menaruh sendok dan mengakerutkan keningnya. “Febis adalah anak mama yang cantik, cantik hatinya dan baik jiwanya” ucap mama. “Napa sih mah, mama dan kakak cantik banget? sedangakan aku… kambing aja cantikkan kambing” mengerutkan bibirnya. Mama Febis tertawa kecil dan tak tahan mau ngetawain ucapan Febis tadi. “Tu… tu kan mama aja ketawa” cemberut Febis. “Aduh sayang, mama ketawa karena masa anak mama disamain sama kambing. Setiap orang itu mempunyai kecantikkan masing-masing. Mama dan kakak mungakin cantik dari wajahnya, tapi kamu lain sayang” ujar mama. “Apa?” mulutnya melongo menanti jawaban mamanya. “Kecantikkan kamu berada disini” menunjuk dada Febis.

“Ma, febis berangakat dan jangan lupa di kamar mandi Febis cerminnya buang aja mah” pinta Febis. “Loh kenapa?” “Aku gak mau ngeliat wajah buruk Febis mah”. Mamanya menggelengakan kepalanya.

Di sekolah seperti biasa Febis membantu guru kesayangannya membawa buku, “bu guru… bu guru…”, “eh kamu, nih bawain”. “Eeeet dah ibu, baru datang udah suruh bawain” ledek Febis.
“Ada yang beda dari saya gak bu?”
“Mmm, apa ya?”
“Lebih cantik”
“Ledekannya basi banget bu”
“Itu pujian loh, memang kamu cantik febis”
“Pantesan ibu ngomong gitu, soalnya ibu gak pake kaca mata”
“Dengar febis, tak semua orang memandang kecantikkan itu dari yang terlihat, tapi kecantikkan itu tersembunyi pada keikhlasan dia tersenyum. Seperti Anggrek yang selalu menebarkan senyumnya lewat sentuhan embun.”
“Ibu adalah orang yang paling aku kagumi, sampai ingatan ini tak luput dari kata-kata ibu, motivasi itu selalu muncul dan menemani kerikil-kerikil kekesalan untuk menghiburku. Ibu adalah Ratu dari segala Ratu motivasi.”
“Kata-katanya dari eyang google ya?”
“Iiiih, ibu. aku masuk dulu ya bu?”
“Makasih febis”.

Setelah pulang sekolah, Febis membantu temannya di toko kaset untuk menjaga toko
“Eh, toko kamu sepi hari ini Ris?”
“Ya nih, apa orang-orang pada ngumpet ya?”
“Haa, ngumpet kenapa?”
“Ada kamu?”
“Ya ya, wajah aku jelek sih… Kambing aja kabur lihat aku”
“Eh, becanda teman. Jangan serius-serius lah”

Beberapa jam kemudian, datang seorang cowok berpakaian layaknya anak muda, tas hitamnya tak pernah ia lepaskan, dan belahan rambutnya yang miring berdiri menarik kaum hawa untuk tak bosan memandang wajahnya yang seputih salju dan bibirnya yang tipis merah, bak artis Steven William.
“Mmm… mba bisa bantu saya gak?” Tanya lelaki itu
“Febis, layanin dulu ya… aku angakat telfon dulu” pinta Arisa
“Ya mas” jawab Febis sambil menatap cowok yang mirip Steven William itu
“Cari kaset Tangga, tapi saya bingung gak ketemu-ketemu”
Febis mengambil kasetnya dan memberikannya kepada cowok itu
“Ini mas, kaset tangganya, semuanya jadi lima puluh ribu”
“Makasih ya mba”
“Ya, sama-sama”
Arisa datang dan menjumpai wajah Febis yang berubah jadi merah, dan tersenyum tak bermakna.
“Idih, idih… Kayaknya ada yang falling in love nih, senyum sendiri tanpa berbagi”
“Eh cowok itu cool pake banget”
“Nih ya Feb, cowok itu seperti uang dalam amplop hitam. Sulit ditebak berapa nominalnya, dan hatinya sulit ditebak apakah dia play boy atau tidak… yaaa pura-pura setia padahal mendua. Cowok kaya dia pasti play boynya kelas ikan piranha.”
“Negative aja kamu”
“Percaya sama aku deh ya, cowok setampan dia… siapa sih yang nolak. Aku juga kagak nolak ci. Hehehe”
“Yaaa, mau juga. Embat sana”
“Eith, Cuma godain doang, aku kan udah punya kaleee”
“Ya udah, ngomongnya jangan pake semangat 1747 dong neng”
“Ada apa di 1747?”
“Adzan magrib” ketawa sambil lari bawa kaset
“Dasar” gigit kaset

Keesokan harinya, seperti biasa Febis masuk sekolah, tiba-tiba bu guru melihat febis mencari sesuatu, dengan tegapnya ia mendekati febis yang sedikit urakan
“febis nyari apa?”
“kasih tau gak ya?”
“eits… dasar, ibu serius feb”
“pin harry potter aku” garuk-garuk kepala sambil gigit jari
“beli lagi aja, kebetulan ibu mau ke mall, ikut?”
“mmmmm” pura pura mikir padahal mau
“kalau mau ikut, jangan pura pura mikir. Udah… ayo”
“habis pulang sekolah?”
“gak, ntar 13 tahun lagi”
“hehehehe” pamer muka polos

Setelah jam sekolah usai, mereka pergi ke mall tapi, suatu ketika terlihat pemuda yang pernah bertemu Febis. Pemuda yang tak luput dari ingatan Febis. Dengan baju putih, tas hitam dan belahan rambutnya seolah-olah febis tak bosan memandangnya.

Febis mendekati cowok itu, dengan menyiapkan strategi face, yaitu muka polosnya. Tapi tiba-tiba bu guru menghampiri Febis yang sedang asyik menatap lelaki yang pernah ditemuinya di toko kaset.
“aduuh, kebiasaan senyum sendirinya gak ilang-ilang neh anak. Dah ketemu belum pinnya?” Tanya bu guru
“belum bu, tapi aku udah ketemu sama yang lebih berharga dari mutiara bu”
“apaan?”
“mm gak papa bu”
“ya sudah kita lanjutkan belanjanya ya?”
“owh, ya bu. siap”
Setelah berhasil menemukan apa yang mereka cari, mereka pun pulang.

Keesokan harinya, kebiasaan Febis di sekolah tak lari dari kelakuan jailnya kepada teman dekatnya yaitu Arisa, Arisa yang sedang asyik baca komik tiba-tiba dikagetkan oleh suara yang mirip rel kereta api yang sudah rusak, ya… suara itu adalah teriakan Febis. Febis berteriak kegirangan, sambil menyanyi dan menari seperti anak baru saja mendapat piala dari perlombaan.
“hari ini kau aneh Febis, kau dapat hadiah dari orangtuamu?”
geleng-geleng kepala
“kau dapat juara dari perlombaan?”
tambah kenceng geleng-geleng kepalanya, “owh ayolah kau tebak ekspresi aku”
“mmmm” sambil ngliatin cicak di atas sambil mikir
“kau menyerah?”
“ya, aku menyerah”
“kemarin aku…”
Bel pun berbunyi, seakan sengaja memotong curhatan Febis yang sedang semangat-semangatnya bercerita. Tapi tak menghalangi Febis untuk menunda ceritanya pada jam istirahat.
“sepertinya bel pun tak mengizinkan aku membagi kegembiraan aku kemarin padamu, ya kan Arisa”
“ya, mungakin hal itu tak diizinkan” tersenyum dengan muka penguin

Istirahat pun akhirnya datang juga, tak sabar Febis ingin membagi kisah bahagianya pada Arisa – sahabat sejati Febis -.
“tau gak Ris, aku kemarin ke mall… dan kamu tahu aku melihat apa?”
“hantu, tengakorak, zombie… atau”
“aduh, duh, duh kebanyakan baca komik deh jadi fikirannya hantuuu mulu, mungakin kebalikan dari hantu. Coba tebak apa?”
“malaikat, oh tidak kau bertemu malaikat. Bagaimana wujudnya, apakah dia mempunyai sayap” Arisa tak henti-hentinya bicara bagai kereta express yang baru dibuat
“aduuh, kamu itu nyerocos aja, maksudnya aku ketemu malaikat hatiku, hehehe” ketawa singa)
“cowok itu, oh ayolah Febis. Aku berani taruhan kalau dia tidak akan tertarik padamu. Dia hanya cowok play boy yang akan haus wanita, dan aku tahu itu”
Terdiam dan mengerutkan bibir dan keningnya
“bukan aku membuatmu sedih, tapi berfikirlah secara logis. Aku tak mau membuat kamu berharap yang tak pasti dan percuma, bagai kau menanam padi di atas papan”
“bahkan sahabatku sendiri meragukanku” mewek dengan menampakkan muka kerucutnya
“lebih baik kita masuk ke kelas, ayolah Febis. Aku tak suka melihat wajahmu seperti ini”
“kenapa?” Tanya Febis)
“karena kau sahabatku, dan aku tak mau kau meneteskan air mata di depanku lagi”

Febis dan Arisa masuk ke kelas, dan seperti biasa selesai sekolah, Febis membantu sahabatnya menjaga toko. Di sela-sela waktu Febis membersihkkan rak-rak toko. Dan sesaat kemudian Febis melihat cowok yang dia kagumi, hendak menghampirinya tapi seorang perempuan memakai gaun pendek berkulit putih menghampiri cowok itu, dan memanggilnya dengan kata sayang. Bagai petir menyapa matahari yang sedang cerah, sama seperti hati Febis yang tersambar karena kecemburuan. Febis langsung pergi dan menuju meja kasir.
Febis hanya terdiam bagai patung, Arisa menatap Febis dengan keheranan. Arisa tak henti-hentinya memandangi Febis, dan beberapa saat Arisa melihat cowok yang ditaksir Febis sedang bercanda dengan wanita cantik. Sekarang Arisa mengerti kenapa Febis diam bagai patung.
“jika kau ingin pulang karena tak tahan, pulanglah. Aku tak apa sendiri disini”
“tidak, aku tak apa Ris”
Setelah cowok itu ke meja kasir dan membayar belanjaannya, dia pergi dengan wanita cantik itu sambil menggandeng tangan halus wanita itu. Yang Febis lihat hanya senyum manis dan rasa kecemburuan saat itu. Tapi Febis tetap tegar dan masih bisa tersenyum.
“kau memang gadis yang tegar Febis, aku salut itu”
“itu semua karena nasehatmu, bukan?”
“owh, ayolah kita berpelukan”
“kok pelukan?”
“kan kita sama-sama suka teletubies, heheheh” ketawa ngledek
“kamu masih bisa bercanda aja ya, tapi aku tetep sayang kamu Arisa, karena berkat kamu, aku bangakit lagi”
tersenyum sambil memeluk Febis

Kini sejak kejadian itu, Febis lebih mandiri dan optimis dengan percintaannya, walau kekecewaan menghampirinya, tapi tetap semangat menjalani hidup. Karena dia sadar nasehat orang-orang yang menyayangi dia itu jauh lebih penting dari pada obsesi kita yang terlalu tinggi, seperti halnya kita mengagumi cowok yang begitu sempurna fisiknya, tapi hati dan kesetiaan lebih penting, dan kita harus tahu siapa kita.


Oleh : Imah Rokhimah

Rantai Persahabatan

Waktu berlalu sangat cepat. Tinggal beberapa bulan lagi, aku akan lulus dari sekolahku ini. Oh ya, perkenalkan namaku Shania Junianatha. Teman-temanku memanggilku Shania. Aku duduk di kelas 9C SMP Negeri 1 Salatiga. Baru kali ini aku tidak sekelas dengan ketiga sahabatku, yaitu Beby Chaesara biasa dipanggil Beby, kelas 9G, Jessica Veranda biasa dipanggil Vera, kelas 9G juga, dan Cindy Yuvia biasa dipanggil Cindvia, kelas 9D. Aku sedih sekali tidak satu kelas dengan mereka. Walaupun begitu, persahabatan kami tidak boleh putus. Kami biasa berkumpul saat istirahat dan pulang sekolah. Dengan begitu, persahabatan kami pun tetap berjalan.

“KRING KRING KRING!!!” terdengar bunyi alarm, yang menandakan aku harus bangun dari tidurku. Hari ini aku tidak bisa bangun siang, karena hari ini aku sudah kembali masuk sekolah. Hari Senin tanggal 6 Januari 2014, hari pertama di semester 2. Aku segera beranjak dari kasurku yang empuk. Setelah itu, aku mengambil handuk dan segera menuju ke kamar mandi. Selesai mandi, aku memakai seragam OSISku. Lalu, aku merapikan rambut dan menuju ke ruang makan untuk sarapan. Di ruang makan sudah terlihat mamaku yang sedang menyiapkan sarapan, papaku yang sedang membenahi dasi dan kedua adikku yang sibuk membicarakan idola mereka masing masing. “Selamat pagi semua…” sapaku dengan senyuman. “Selamat pagi Kak.. Kak Shania tahu JKT48 kan? Hari ini mereka konser loh kak.” kata adikku yang bernama Kevin. “Iya tahu. Ih pagi-pagi udah ngomongin JKT48” ejekku ke adikku yang duduk di kelas 4 SD ini. “Kak, nanti tolong anterin aku ke toko buku ya, Kak. Aku mau beli buku asli nya 1D.” oceh adikku yang duduk di kelas 6 SD, Thalia. “Iya, Thalia cantik. Kakak nanti anterin kamu. Ini juga pagi-pagi udah ngomongin 1D. Mendingan beli buku “Detik-Detik menjelang UN” Kamu kan udah mau UN juga kayak kakak.” ucapku. Mereka berdua langsung tertawa bersama.

Setelah selesai sarapan, aku, kedua adikku, dan papaku berangkat naik mobil. Kedua adikku diantar duluan. Setelah itu baru mengantarku. “Shania sekolah dulu ya, Pa.” pamitku ke papaku sambil mencium tangannya. “Iya, Kak. Sekolah yang baik ya. Ingat, udah semester 2. Sebentar lagi udah mau UN. Semangat belajarnya ditambah.” kata papa menasihatiku. “Siap, Pa” kataku sambil mengacungkan jempol. Aku keluar dari mobil dan berjalan menuju kelasku, kelas 9C. Setelah meletakkan tas, aku mengambil topi upacara dan bergegas menemui ketiga sahabatku, Beby, Vera, dan Cindvia. Saat di kelas 9D, aku meminta izin masuk ke kelas itu. Setelah diizinkan masuk, aku langsung menuju ke tempat duduk Cindvia. “Hai, Cindvia.. Kamu tumben nggak dikucir dua?” tanyaku kepada Cindvia. “Halo, Shan. Iya. Nggak apa-apalah. Semester baru, penampilan juga baru dong. Hahaha” kata Cindvia sambil tertawa. “Hahaha.. Tapi tetep cantik kok, Cind. Eh, ayo kita nyamperin Beby sama Vera!” ajakku. “Ayo!” jawab Cindvia bersemangat.

Kami berdua berjalan ke kelas Beby dan Vera, kelas 9G. Sesampainya di kelas 9G, Cindvia langsung memanggil Beby dan Vera. “Beby! Vera!” panggil Cindvia. “Iyaa, sebentar Cind.” Kata Vera dari dalam kelas. Tak lama kemudian, Vera keluar dari kelasnya. “Loh, Ver. Beby mana?” tanyaku. “Biasa, Shan. Masa nggak tahu?” kata Vera. “Ohh, iya aku tahu kok, Ver. Pasti belum dateng ya?” tebakku. “Hahaha, tahu aja sih kamu” jawab Vera sambil tertawa. “Hai kalian bertiga. Kok udah pada dateng sih?” tanya Beby tiba-tiba. “Yah, Beb. Kamu aja yang datengnya siang!” kata Cindvia. “Iya, Beby. Lagian ini udah jam 7 kurang 10, Beb.” kataku. “Huuu, calon ketua kelas apa itu? Datengnya aja jam 7 kurang 10” kata Vera mengejek. “Ih, Vera.” kata Beby. Beby segera masuk ke kelasnya untuk meletakkkan tasnya, dan mengambil topi upacara. “Ayo ke lapangan upacara!” ajak Beby sambil memakai topinya. “LETS GO!” ucapku, Vera, dan Cindvia bersamaaan.

Saat di lapangan upacara, kami harus berpisah. Beberapa menit kemudian, upacara pun dimulai. Setelah upacara itu selesai, barisan pun dibubarkan dan kami kembali ke kelas masing-masing. Seperti biasa, untuk kembali ke kelas, aku berjalan bersama ketiga sahabatku. Di depan kelas 9C, aku melambaikan tangan pada ketiga sahabatku. Itu tandanya, kami harus berpisah untuk sementara, dan akan bertemu nanti saat istirahat atau pulang sekolah. Karena hari ini adalah hari pertama di semester 2, jadi hari ini kami belum ada pelajaran. Kegiatan hari ini hanya pemilihan pengurus kelas baru, membersihkan kelas, dan mengumpulkan dana untuk program “Peduli Pendidikan.”

Bel sekolah berbunyi tiga kali. Waktunya murid SMP Negeri 1 Salatiga untuk pulang ke rumah masing masing. Wah, ternyata hari ini pulang lebih awal. Setelah berdoa dan mengucapkan salam pada guru, aku langsung keluar kelas dan melakukan kegiatan rutinku. Ya. Menemui ketiga sahabatku. Setelah kami bertemu, kami pun pulang bersama.

Keesokan harinya, Beby tidak masuk sekolah. Entah dengan alasan apa dia tidak masuk sekolah. Dia pun tidak memberitahu kami bertiga. “Ver, kamu tahu alasan Beby nggak masuk sekolah?” tanya Cindvia saat istirahat pertama. “Nggak tahu, Cind. Nggak ada suratnya.” jawab Vera. “Dia juga nggak ngasih kabar ke aku.” kataku dengan lesu. Saat pulang sekolah, aku mengambil telepon genggamku. Terlihat ada satu pesan singkat entah dari siapa. Aku langsung membaca pesan singkat itu. Ternyata, pesan itu dari Beby! Pesan itu isinya: “Shan, maaf hari ini aku nggak masuk sekolah. Soalnya… Maafin aku, Shan. Hari ini papaku dipindah kerjanya jadi di Jakarta. Jadi aku harus pindah ke Jakarta! Maafin aku, nggak ngasih tahu kamu dari kemarin-kemarin. Papa mamaku juga ngasih tahu nya mendadak. Maaf ya, Shan. Semoga kamu maafin aku dan persahabatan kita tetap berjalan ^_^ ~Beby Chaesara~” Setelah aku membaca pesan itu dari Beby, air mataku sudah mengalir ke pipi. “Beby! Kamu jahat! Kamu jahat, jahat, jahat!” kataku dalam hati. Aku segera memberitahukan hal ini kepada Vera dan Cindvia. Ya, ternyata mereka juga dapat kabar yang sama dari Beby.

Keesokan harinya saat sekolah, kami kembali berkumpul, tentunya tanpa Beby. “Hey, Shania. Gimana kemarin perasaanmu waktu dapet SMS dari Beby, soal pindahannya?” tanya Vera tiba tiba. “Yah, gitu deh, Ver. Beby jahat banget sama kita! Dia nggak ngasih tahu kita dari awal, kalau dia mau pindah ke Jakarta.” kataku ketus. “Iya, Shan. Aku setuju sama kamu! Ternyata, seorang Beby Chaesara kayak gitu!” kata Cindvia menimpali perkataanku. “Hus, kalian nggak boleh gitu sama si Beby. Yang penting kan dia udah ngasih kabar ke kita. Daripada nggak sama sekali.” kata Vera menasihatiku dan Cindvia. “Ah, sekali jahat tetap jahat!” kataku sambil berjalan menuju ke kelasku. Vera yang melihatku hanya menggelengkan kepalanya.

Saat pulang sekolah, aku ditemani dengan langit biru yang bertaburan dengan kapas putih yang indah, bagiku itu adalah langit gelap dengan kapas hitam yang sangat tidak enak di hati. Kepergian Beby ke Jakarta memang membuatku jengkel, marah, sedih tercampur aduk bagaikan adonan roti yang siap dimasukkan ke oven. Sesampainya di rumah, aku langsung mengganti pakaianku. Di ruang keluarga, terdapat piano yang dibelikan oleh papaku. Aku langsung menuju ke piano tersebut dan langsung memainkan piano itu. Aku memainkan piano itu sambil menyanyikan lagu JKT48 yang berjudul “Pembatas Buku Sakura” yang dimana lagu itu menceritakan tentang seseorang yang berpisah dengan sahabatnya. Lagu itu pas sekali dengan perasaanku hari ini. Tak terasa, lagu itu sudah ku mainkan dua kali. Aku menuju ke kamarku dan melihat beberapa album foto. Album foto itu berisikan foto fotoku dengan ketiga sahabatku. Tak berapa lama kemudian, aku menutup album foto itu. “Beby, kamu jahat banget sama kita! Kamu ninggalin persahabatan kita, Beb!” kataku pelan.

Hari demi hari berlalu. Minggu demi minggu berlalu. Ku jalani hari-hariku tanpa satu sahabatku, Beby. “Beb, aku belum bisa maafin kamu…” kataku dalam hati sambil berjalan menuju sekolah. “Shania! Shania!” seseorang berteriak memanggil namaku. Aku langsung menengok ke belakang. Tak kusangka! Beby lah yang memanggilku. “Beb.. Be.. Be.. Beby?!” ucapku terbata-bata. “Iya Shan, hari ini papaku libur. Jadi aku main ke Salatiga.” ucap Beby tersenyum. Aku menarik napasku. “Beb! Kamu jahat banget sama kita! Kamu ninggalin kita dengan kabar yang mendadak! Kamu jahat, Beb. Jahat!” kataku berteriak sambil berlari meninggalkan Beby. “Shan…” kata Beby terdiam di tempat. “Beb, maafin aku. Aku belum bisa maafin kamu” ucapku dalam isak tangisku sambil berlari. Sesampainya di sekolah, aku masih mengingat kejadian tadi pagi. Aku menceritakan hal ini kepada Vera dan Cindvia. “Iya, Shan. Memang dia hari ini ke Salatiga” kata Vera memberitahuku. “Beby ngapain ke Salatiga? Dia udah jahat sama kita kok. Nggak usah dimaafin!” kata Cindvia. “Ya ampun, Cind. Kita nggak boleh gitu sama sahabat sendiri. Lagian juga dia udah jauh jauh dari Jakarta, Cuma buat nemuin kita kok. Dia masih sayang sama kita, dia masih mau persahabatan ini berjalan.” kata Vera dengan bijak. Cindvia hanya tertunduk. Bel masuk pun berbunyi. Sepanjang pelajaran hari ini, aku tidak bisa berkonsentrasi. Aku terus menerus memikirkan kejadian tadi pagi.

Setelah semua pelajaran selesai, aku dan Cindvia diajak ke taman kota oleh Vera. Kami pun melangkah menuju taman kota. Akhirnya, kami pun sampai di taman kota. “Beby!” teriak Vera memanggil Beby. Aku dan Cindvia tersentak kaget. “Haaa?! Beby? Vera, jadi kamu ngajak kita kesini untuk ketemu sama Beby?” tanyaku dengan nada sedikit marah. “Tahu gitu, tadi aku langsung pulang aja! Buang-buang waktu, Ver!” ucap Cindvia. Beby melangkah mendekati kami dengan wajah tertunduk. “Shan, Cind. Kalian dengerin penjelasan Beby dulu. Shania Junianatha dan Cindy Yuvia yang aku kenal, nggak kayak gini sikapnya!” ucap Vera untuk membela Beby. “Untuk apa dengerin penjelasan si pengkhianat?” tanyaku ketus. “Udahlah, aku mau pulang saja!” teriakku sambil meninggalkan Vera, Beby, dan Cindvia. “Aku juga! Aku ada urusan yang lebih penting!” teriak Cindvia. Tiba-tiba, Beby berlari ke arahku dan Cindvia. Dia menarik tangan kami. “Shan! Cind! Please, dengerin penjelasanku dulu.” kata Beby dengan mata nya yang sudah berkaca-kaca. “Beb, untuk apa? Semua udah jelas! Kamu ninggalin persahabatan ini! Aku tahu kamu ikut papamu pindah ke Jakarta. Tapi kalau kamu ngasih kabarnya nggak mendadak, aku nggak akan kecewa dan marah sama kamu, Beb.” kata Cindvia panjang lebar. “Cind, aku nggak bermaksud ninggalin persahabatan kita ini. Lagipula kita masih bisa berkomunikasi.” ucap Beby dengan air matanya yang sudah terlinang. “Hey! Kita ini sahabat, jangan berantem terus. Memang, kadang kala persahabatan itu ada masalahnya. Tapi masalah itu jangan terlalu banyak! Kayak makanan. Makanan itu rasanya hambar kalau nggak ada bumbunya. Tapi kalau bumbunya terlalu banyak, rasanya juga bakal nggak enak! Ya, kan?” ucap Vera tiba-tiba. Dia berhenti sebentar. “Coba kalau kalian ada di posisi Beby, kalian juga akan ngelakuin hal yang sama kayak Beby, kan? Aku ngajak kalian ke sini itu, biar kalian sadar kalau kalian itu salah paham soal Beby! Aku nggak mau persahabatan kita putus gara-gara hal ini.” kata Vera melanjutkan perkataannya. Ya. Jika aku ada di posisi Beby, aku juga melakukan hal yang sama. Aku berlari menuju Beby yang masih mengalirkan air matanya. Aku langsung memeluknya dan meminta maaf padanya. “Beb! Maafin aku. Aku salah paham soal kamu, Beb! Maafin aku tadi pagi marah ke kamu. Maaf, Beb!” kataku dalam posisi masih memeluk Beby. “Iya, Shan. Nggak apa-apa. Lagipula aku yang salah kok, bukan kamu. Aku ngasih kabar ke kamu mendadak banget. Jadi, kamu marah deh sama aku. Maafin aku juga ya, Shan.” kata Beby dengan tangisannya. “Beby!! Maafin aku juga ya, Beb.” kata Cindvia sambil berlari dan memeluk kami. “Iya, Cind. Maafin aku juga ya, Cind.” kata Beby. Vera yang melihat itu pun, langsung memeluk kami. “Vera, makasih ya buat semuanya. Maafin aku ya, Ver” ucap Beby kepada Vera. “Sama-sama, Beby. Udah, lupakan aja masalah itu. Yang penting, sekarang persahabatan kita udah nyambung lagi.” kata Vera tersenyum.

Akhirnya, persahabatanku, Beby, Vera, dan Cindvia tersambung kembali. Berkat ucapan Vera yang menyadarkanku dan Cindvia, untuk bisa memaafkan Beby. Sekarang aku tahu arti persahabatan yang sesungguhnya. Terkadang dilanda masalah, tetapi cepat atau lambat, masalah itu akan hilang seperti kabut di pagi yang dingin. Persahabatan kami akan seperti rantai, yang selalu tersambung satu sama lain dan tidak akan pernah putus!

TAMAT