Selasa, 30 Desember 2014

Paspor Pertama dan Terakhirku

Tak ada semburat cahaya yang masuk melalui jendela kaca kamarku sepeti biasanya pagi ini. Mentari yang selalu membuatku terbangun pun masih mengurungkan niatnya untuk keluar dari cakrawalanya. Entah karena ini adalah efek dari pergantian musim atau memang karena aku yang terbangun terlalu buta. Aku tidak tau.

Kukumpulkan nyawaku setelah kudengar kicauan burung yang seakan menyapaku dan kulihat bayangan embun menghiasi pucuk dedaunan -pada tanaman hias yang selalu kuletakan di depan jendela kaca kamarku- seraya meyakinkanku bahwa pagi ini telah tiba. Namun rasa kantuk masih menyerangku. Mungkin karena memang aku tidak terbiasa terbangun sebuta ini. Sungguh susah memang menghilangkan kebiasaan begitu saja tanpa proses. Terlebih lagi ini adalah musin dingin -musim dimana kita bisa tetap terjaga di bawah selimut tebal dengan balutan sweater untuk memperhangat tubuh. Apapun alasannya. Termasuk untuk alasan pagi ini yang memaksaku bangun lebih awal dari biasanya. Walaupun aku sadar bahwa hari ini berbeda. Dan… spesial. Aku terduduk di tepi ranjangku. Terdiam.

Desa Bibury, perbukitan Costwold, Inggris Adalah salah satu desa kecil yang dibangun sekitar abad ke-17. Desa ini selalu memperlihatkan keindahan alaminya. Diselimuti oleh ketenangan. Rerumputannya pun selalu terlihat mempesona dan memanjakan mata. Desa ini terletak di barat daya Inggris. Jauh dari pemandangan gedung pencakar langit. Desa ini pula yang mendengar tangisan pertamaku dan menjadi tempat persinggahan hidupku hingga detik ini. Aku menyukai desa ini sejak kali pertama dunia menyapaku. Terlebih desa ini pula yang mempertemukanku dengan empat orang anak yang selalu menjadi salah satu alasanku mengapa aku mampu betahan hingga sekarang termasuk alasan utama mengapa aku bangun sepagi ini – aku menyebut mereka sahabat.

Dua minggu yang lalu Ariella, Griselda, Cordelia, Prasiya -sahabatku. Dan aku, berkumpul seperti biasa di kamar Cordelia. Hal ini adalah salah satu dari kebiasaan rutin kami untuk menyambut liburan musim dingin. Tepat dua minggu sebelum liburan tiba kami selalu merencanakan sesuatu untuk merayakan liburan musin dingin. Seperti siang ini. Entah hanya sekedar camping di halaman belakang, menginap dan mengobrol hingga pagi pun tiba, mengelilingi taman bahkan berjalan ke kota-kota kecil. Takkan ada kata absen untuk hal ini. Terlebih aku merasa liburan kali ini berbeda.

Kami pun berunding tujuan manakah yang akan menjadi pengisi liburan kali ini. Aku suka perundingan semacam ini. Terlebih bersama mereka yang selalu membuatku merasa hangat sekalipun cuaca tak bersahabat. Tiga jam kami berunding namun masih belum ada tujuan yang memikat. Tiba-tiba aku teringat brosur yang dibawa mamah beberapa hari lalu. Brosur itu mengiklankan suatu tempat. Entah mengapa bosur itu menarik perhatianku. Aku pun berteriak “INDONESIA!!!” saat itu pula mereka menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa kusadari perlahan mereka tersenyum. Dan kami pun saling lirik kemudian serentak mengucapkan kata “TEPAT” bersama. Kami berpelukan layaknya teletubis yang lama tak berjumpa.

“Aura, turun. Sarapan sekarang. 15 menit lagi kita berangkat.” Tiba-tiba suara Mamah menyadarkanku dari lamuman. Aku pun tesentak karena terkejut oleh suara sang mamah. Tanpa sadar, ternyata lamumanku pagi ini cukup lama. Sebab mentari yang kusangka takkan keluar dari tempat pesembunyiannya itu pagi ini telah mempelihatkan senyumannya. Sangat lebar. Kepadaku. Tiba-tiba rasa hangat menyelimuti tubuhku terlebih hatiku. “iya mah.” Aku pun mengganti pakaian yang telah kusiapkan sejak malam tadi. Rapi namun santai dan tebal. Aku menuruni tangga dan berjalan ke ruang makan. “semuanya sudah siap?” mamah pun meyakinkanku agar aku benar-benar telah menyiapkan semuanya. Kujawab dengan anggukkan antusiasku dan senyuman yang memperlihatkan deretan gigi-gigiku pagi itu. “termasuk paspor?” Tanya mamah. Yap… Paspor? Tanyaku dalam hati.

Paspor? Nama itu mengingatkanku dengan kejadian dua minggu yang lalu. Nama yang hampir mengurungkan niatku untuk berlibur. Nama yang membuatku tak semangat pula melanjutkan liburanku. Karena hal yang paling tidak kusukai adalah hal yang paling indentik dengan pembuatan paspor – Menunggu. Iyap. Menunggu adalah hal yang paling tidak kusukai. Dengan begitu membuat paspor berarti aku harus melakukan hal yang tidak kusukai.

Setelah Indonesia menjadi pilihan kami untuk tujuan berlibur kali ini hal yang memenuhi pikiranku hanyalah ‘bagaimana bisa aku harus menunggu pembuatan paspor?’ walaupun aku tahu Indonesia adalah pilihanku namun aku tak mengingat bahwa Indonesia bukanlah bagian dari Inggris. Tiba-tiba aku mengurungkan niatku. Namun mereka – Ariella, Griselda, Cordelia dan Prasiya membujukku. Terus membujukku. Walaupun pada awalnya pendirianku tak runtuh. “Naura, kamu itu enggak menunggu sendiri. Kamu itu menunggu bersama. Bersama kita. Jangan takut.” Namun perkataan Griselda perlahan meruntuhkan pendirianku. “Selda benar Ra, kamu enggak usah takut. Please demi kita. Aku ingin liburan kali ini berbeda Ra, aku ingin liburan kali ini spesial.” Tambah Prasiya dengan anggukkan mereka. Kali ini benar-benar meruntuhkan pendirianku. Hening. Tak ada suara apapun. Termasuk jawabanku yang sedang mereka nantikan. Akhirnya kuanggukan kepalaku perlahan namun pasti. Sedetik kemudian jeritan kebahagian terdengar memenuhi kamar cordelia. Aku pun tersenyum. Entah apa yang mendorongku untuk menganggukkan kepala. Namun ada hal yang benar-benar mendorongku saat itu – Harapan. Suatu harapan yang terpendamlah yang benar-benar mendorongku saat itu. Harapan untuk membuat suatu kenangan yang mungkin menjadi yang terakhir untukku bersama mereka. Hanya itu.

Akhirnya keesokkan paginya setelah pulang dari college kami – Ariella, Griselda, Cordelia, Prasiya dan Aku pergi ke kantor imigrasi untuk mengambil formulir pembuatan paspor. “Maaf sebelum mengisi formulirnya kakak-kakak harus menyiapkan KTP, KK (Kartu Keluarga), akta kelahiran dan ijazah. Kalau bisa siapkan fotocopynya dan aslinya juga.” Perintah salah satu petugas imigrasi. “Asli? Untuk apa, Pak?” Tanya Ariella mewakili kami. “Asli untuk dibawa ketika wawancara sedangkan copynya untuk dilampirkan.” Jelas si Petugas “Oh iya, setelah formulir diisi langsung dikumpulkan saja. Nanti untuk foto wawancara dan sidik jari akan kami kabarkan lagi.” Tambah petugas tersebut. “Kira-kira berapa hari lagi, Pak?” tanyaku cepat, sebab hanya aku yang mempunyai tingkat kesabaran terendah untuk hal tunggu-menunggu. “Tidak lama, sekitar 4 hari setelah pengumpulan formulir.” Jawabnya dengan sabar dan tenang. “Terima kasih, Pak.” Jawab Deli mewakili kami.

Hari yang ku tunggu pun tiba – 4 hari setelah pengumpulan formulir. Kami kembali ke kantor imigrasi sepagi mungkin agar mendapakkan nomor antrean terendah untuk foto dan wawancara. Dan berhubung latar belakang foto berwarna putih kami pun disarankan untuk tidak menggunakan baju yang berwarna putih dan contact lensa karena retina mata tidak akan terekam. Kami pun mengikuti semua saran yang dianjurkan petugas tersebut agar tidak menghambat proses foto.
Wawancara pun tidak ada yang penting hanya basa-basi. Berbicara mengenai dokumen dan data yang kami berikan dan alasan mengapa kami membuat paspor. Kami pun menjawab sejujurnya dan apa adanya. Sehingga prosesnya pun tak lama. Paspor pun dapat kita ambil kembali sekitar 4 hari kemudian. Dan sekarang paspor itu ada di tanganku. Menjadi milikku.

“Nau? Hey Naura? Sayang?” (sembari melambai tangan di depan mataku) lagi-lagi suara mamah yang menyelamatkanku dari lamunan. Aku tak sadar. Ternyata sedari tadi mamah memanggil namaku. Sepertinya aku cukup lama terlarut dalam lamumanku sehingga tak mendengar panggilan mamah. Aku menghadap ke samping untuk melihat beliau. Aku tersenyum. Ternyata hal yang aku anggap buruk selama ini – Menunggu. Akhirnya membuahkan hasil juga.

Mamah mengelus bagian belakang rambutku menandakan bahwa beliau ingin mengatakan sesuatu yang mungkin saja penting. “kamu enggak akan lupa sama janji kamu kan, Nak?” Tanya beliau perlahan namun tegas. Sorotan matanya begitu teduh. Aku selalu menyukai mata hijau itu. Janji? Janji apa yang pernah kulontarkan? Aku punya janji? Dengan mamah? Apa?. “kamu lupa?” pertanyaan sang Mamah seakan bisa membaca semua pertanyaan dalam benakku. Oh iya. Aku lupa. Aku punya janji dengan beliau. Memang. Janji yang kuucapkan agar mendapatkan persetujuan mamah untuk berlibur. “Iya, Mah. Aku ingat.” Aku tersenyum lalu kembali melanjutkan sarapanku. Setalah sarapan selesai dan semuanya siap Mamah mengantarkanku ke rumah Ariella – tempat kami berkumpul untuk menuju ke Bandara.

Perjalanan menuju bandara dari rumah Ariell hanya membutuhkan waktu dua jam. Namun menurutku itu adalah dua jam terlamaku. Mungkin hanya perasaanku saja karena tingkat kesabaranku semakin menipis. Terlebih lagi aku harus menghabiskan waktuku di dalam pesawat selama 13 – 14 jam untuk sampai di Indonesia. Karena jarak antara Indonesia-inggris sekitar 12.000 km. Aku memilih Indonesia karena aku tahu bahwa Indonesia mempunyai kekayaan yang luar biasa terhadap alamnya terlebih alam bawah lautnya. Jadi banyak hal yang ingin kulakukan ketika berlibur di sana seperti halnya diving, snorkeling untuk benar-benar mengetahui keindahan alam bawah lautnya atau sekadar berjalan-jalan di sekeliling pantai. Atau bahkan hanya menjajakan dagangan yang terjual di sekitarnya. Semua akan kulakukan bersama dengan sahabatku. Aku yakin ini tak akan terlupakan. Aku harus membuat kenangan itu sebelum terlambat.

Seminggu kemudian kami pun kembali ke Bibury, Inggris. Dengan senyum yang terlukis menghiasi wajah kami. Dugaanku tepat. Harapanku terwujud. Mimpiku nyata – menghabiskan liburan yang mungkin menjadi hal terakhir yang kulakukan dengan sahabatku. Karena setelah liburan itu berakhir aku menetapkan janjiku yang kubuat dengan mamah. Menjalankan Embolisasi – Embolisasi itu adalah tindakan yang diambil para Dokter untuk menangani pasien yang mengidap penyakit Aneurisma yang sudah dalam kondisi parah. Penanganannya dengan cara memasukan bahan-bahan tertentu ke dalam aliran darah untuk pengobatan sumbatan pembuluh darah.

Sudah hampir 3 tahun Aneurisma menemaniku. Aneurisma adalah kelainan pembuluh darah di otak karena lemahnya dinding pembuluh darah dan dinding pembuluh darah tersebut tidak mampu menahan tekanan darah yang relatif tinggi. Awalnya aku tak mengerti mengapa aku mengidapnya. Namun Dokter menjelaskan bahwa ini bisa terjadi karena adanya faktor keturunan. Ternyata benar, dulu papaku memang mengidap penyakit ini kata mama. Aku mampu menjalankan Embolisasi tersebut. Namun beberapa hari setelahnya takdir berkata lain, kecelakaan kecil terjadi yang membuat pembuluh darah tersebut pecah.

Kini aku mengenang semuanya di dalam surga. Aku pun percaya mereka akan mengenangnya di dunia. Naura Lavina Annaila nama yang tertinggal kini telah bahagia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar