Selasa, 30 Desember 2014

Febis

Bumi tak pernah memandang orang lemah, kurang, bahkan buruk. Tapi bumi tersenyum bagi orang yang tersenyum pada alam. Ketika itu juga matahari dan seluruh alam tersenyum pada kita. Bersyukur adalah salah satu kunci kepercayaan diri. Mimpi itu indah baginya, tapi sebaik-baik mimpi masih indah dalam kenyataan, karena semua mimpi itu sebagian ada dalam kenyataan. Dan kenyataan mengajarkan kita betapa indahnya pahit hidup yang harus kita jalani dengan tangan, kaki dan seluruh tubuh kita. Sebut saja Febis, nama yang aneh. Karena Febis lahir bulan Februari di hari Kamis. Kebiasaan sehabis bangun tidur Febis adalah melihat wajah kakaknya. Hobby yang aneh.

Tutututututu… jam weker Febis berbunyi. Hoaam… uapannya membuat nyamuk langsung pingsan karena bau mulut yang tak tertahankan. Bangunlah Febis dari tempat tidurnya menuju kamar kakaknya. Febis memandangi wajah kakaknya yang cantik rupawan bak artis Hollywood Emma Watson. Kakak Febis yang setengah sadar melihat bayangan gadis sedang berdiri di sampingnya dengan rambut yang urakan. “Aduuuuh, Febis kapan sih kamu pagi-pagi gak ke kamar kakak? Kakak hari ini libur Febis dan masih ngantuk”. “Kakak gak sholat?”. “Kakak lagi gak sholat sayang, udah pergi sana ilermu udah nunggu tuh buat dibersiin”. Pergi dengan mulut manyun dan piyama banananya yang gede.

Setelah kembali ke kamarnya dan mengerjakan sholat subuh, Febis mandi. Di kamar mandi Febis tak berani melihat wajahnya yang tak karuan. Selesai mandi, Febis sarapan dan di situ sudah ada mamanya. “Mah?” tegur Febis “Ya sayang” mamanya tersenyum untuk menyemangatkan sarapannya. “Menurut mama, aku cantik gak?” Tanya Febis. “Hemmm” mamanya menghela nafas dan tersenyum kecil. “Kok Febis Cuma dikasih senyum?”. ujar Febis “Sayang, setiap hari kau menanyakan hal ini” jawab Mama Febis. “Mama capek ya Febis nanya mulu?” menaruh sendok dan mengakerutkan keningnya. “Febis adalah anak mama yang cantik, cantik hatinya dan baik jiwanya” ucap mama. “Napa sih mah, mama dan kakak cantik banget? sedangakan aku… kambing aja cantikkan kambing” mengerutkan bibirnya. Mama Febis tertawa kecil dan tak tahan mau ngetawain ucapan Febis tadi. “Tu… tu kan mama aja ketawa” cemberut Febis. “Aduh sayang, mama ketawa karena masa anak mama disamain sama kambing. Setiap orang itu mempunyai kecantikkan masing-masing. Mama dan kakak mungakin cantik dari wajahnya, tapi kamu lain sayang” ujar mama. “Apa?” mulutnya melongo menanti jawaban mamanya. “Kecantikkan kamu berada disini” menunjuk dada Febis.

“Ma, febis berangakat dan jangan lupa di kamar mandi Febis cerminnya buang aja mah” pinta Febis. “Loh kenapa?” “Aku gak mau ngeliat wajah buruk Febis mah”. Mamanya menggelengakan kepalanya.

Di sekolah seperti biasa Febis membantu guru kesayangannya membawa buku, “bu guru… bu guru…”, “eh kamu, nih bawain”. “Eeeet dah ibu, baru datang udah suruh bawain” ledek Febis.
“Ada yang beda dari saya gak bu?”
“Mmm, apa ya?”
“Lebih cantik”
“Ledekannya basi banget bu”
“Itu pujian loh, memang kamu cantik febis”
“Pantesan ibu ngomong gitu, soalnya ibu gak pake kaca mata”
“Dengar febis, tak semua orang memandang kecantikkan itu dari yang terlihat, tapi kecantikkan itu tersembunyi pada keikhlasan dia tersenyum. Seperti Anggrek yang selalu menebarkan senyumnya lewat sentuhan embun.”
“Ibu adalah orang yang paling aku kagumi, sampai ingatan ini tak luput dari kata-kata ibu, motivasi itu selalu muncul dan menemani kerikil-kerikil kekesalan untuk menghiburku. Ibu adalah Ratu dari segala Ratu motivasi.”
“Kata-katanya dari eyang google ya?”
“Iiiih, ibu. aku masuk dulu ya bu?”
“Makasih febis”.

Setelah pulang sekolah, Febis membantu temannya di toko kaset untuk menjaga toko
“Eh, toko kamu sepi hari ini Ris?”
“Ya nih, apa orang-orang pada ngumpet ya?”
“Haa, ngumpet kenapa?”
“Ada kamu?”
“Ya ya, wajah aku jelek sih… Kambing aja kabur lihat aku”
“Eh, becanda teman. Jangan serius-serius lah”

Beberapa jam kemudian, datang seorang cowok berpakaian layaknya anak muda, tas hitamnya tak pernah ia lepaskan, dan belahan rambutnya yang miring berdiri menarik kaum hawa untuk tak bosan memandang wajahnya yang seputih salju dan bibirnya yang tipis merah, bak artis Steven William.
“Mmm… mba bisa bantu saya gak?” Tanya lelaki itu
“Febis, layanin dulu ya… aku angakat telfon dulu” pinta Arisa
“Ya mas” jawab Febis sambil menatap cowok yang mirip Steven William itu
“Cari kaset Tangga, tapi saya bingung gak ketemu-ketemu”
Febis mengambil kasetnya dan memberikannya kepada cowok itu
“Ini mas, kaset tangganya, semuanya jadi lima puluh ribu”
“Makasih ya mba”
“Ya, sama-sama”
Arisa datang dan menjumpai wajah Febis yang berubah jadi merah, dan tersenyum tak bermakna.
“Idih, idih… Kayaknya ada yang falling in love nih, senyum sendiri tanpa berbagi”
“Eh cowok itu cool pake banget”
“Nih ya Feb, cowok itu seperti uang dalam amplop hitam. Sulit ditebak berapa nominalnya, dan hatinya sulit ditebak apakah dia play boy atau tidak… yaaa pura-pura setia padahal mendua. Cowok kaya dia pasti play boynya kelas ikan piranha.”
“Negative aja kamu”
“Percaya sama aku deh ya, cowok setampan dia… siapa sih yang nolak. Aku juga kagak nolak ci. Hehehe”
“Yaaa, mau juga. Embat sana”
“Eith, Cuma godain doang, aku kan udah punya kaleee”
“Ya udah, ngomongnya jangan pake semangat 1747 dong neng”
“Ada apa di 1747?”
“Adzan magrib” ketawa sambil lari bawa kaset
“Dasar” gigit kaset

Keesokan harinya, seperti biasa Febis masuk sekolah, tiba-tiba bu guru melihat febis mencari sesuatu, dengan tegapnya ia mendekati febis yang sedikit urakan
“febis nyari apa?”
“kasih tau gak ya?”
“eits… dasar, ibu serius feb”
“pin harry potter aku” garuk-garuk kepala sambil gigit jari
“beli lagi aja, kebetulan ibu mau ke mall, ikut?”
“mmmmm” pura pura mikir padahal mau
“kalau mau ikut, jangan pura pura mikir. Udah… ayo”
“habis pulang sekolah?”
“gak, ntar 13 tahun lagi”
“hehehehe” pamer muka polos

Setelah jam sekolah usai, mereka pergi ke mall tapi, suatu ketika terlihat pemuda yang pernah bertemu Febis. Pemuda yang tak luput dari ingatan Febis. Dengan baju putih, tas hitam dan belahan rambutnya seolah-olah febis tak bosan memandangnya.

Febis mendekati cowok itu, dengan menyiapkan strategi face, yaitu muka polosnya. Tapi tiba-tiba bu guru menghampiri Febis yang sedang asyik menatap lelaki yang pernah ditemuinya di toko kaset.
“aduuh, kebiasaan senyum sendirinya gak ilang-ilang neh anak. Dah ketemu belum pinnya?” Tanya bu guru
“belum bu, tapi aku udah ketemu sama yang lebih berharga dari mutiara bu”
“apaan?”
“mm gak papa bu”
“ya sudah kita lanjutkan belanjanya ya?”
“owh, ya bu. siap”
Setelah berhasil menemukan apa yang mereka cari, mereka pun pulang.

Keesokan harinya, kebiasaan Febis di sekolah tak lari dari kelakuan jailnya kepada teman dekatnya yaitu Arisa, Arisa yang sedang asyik baca komik tiba-tiba dikagetkan oleh suara yang mirip rel kereta api yang sudah rusak, ya… suara itu adalah teriakan Febis. Febis berteriak kegirangan, sambil menyanyi dan menari seperti anak baru saja mendapat piala dari perlombaan.
“hari ini kau aneh Febis, kau dapat hadiah dari orangtuamu?”
geleng-geleng kepala
“kau dapat juara dari perlombaan?”
tambah kenceng geleng-geleng kepalanya, “owh ayolah kau tebak ekspresi aku”
“mmmm” sambil ngliatin cicak di atas sambil mikir
“kau menyerah?”
“ya, aku menyerah”
“kemarin aku…”
Bel pun berbunyi, seakan sengaja memotong curhatan Febis yang sedang semangat-semangatnya bercerita. Tapi tak menghalangi Febis untuk menunda ceritanya pada jam istirahat.
“sepertinya bel pun tak mengizinkan aku membagi kegembiraan aku kemarin padamu, ya kan Arisa”
“ya, mungakin hal itu tak diizinkan” tersenyum dengan muka penguin

Istirahat pun akhirnya datang juga, tak sabar Febis ingin membagi kisah bahagianya pada Arisa – sahabat sejati Febis -.
“tau gak Ris, aku kemarin ke mall… dan kamu tahu aku melihat apa?”
“hantu, tengakorak, zombie… atau”
“aduh, duh, duh kebanyakan baca komik deh jadi fikirannya hantuuu mulu, mungakin kebalikan dari hantu. Coba tebak apa?”
“malaikat, oh tidak kau bertemu malaikat. Bagaimana wujudnya, apakah dia mempunyai sayap” Arisa tak henti-hentinya bicara bagai kereta express yang baru dibuat
“aduuh, kamu itu nyerocos aja, maksudnya aku ketemu malaikat hatiku, hehehe” ketawa singa)
“cowok itu, oh ayolah Febis. Aku berani taruhan kalau dia tidak akan tertarik padamu. Dia hanya cowok play boy yang akan haus wanita, dan aku tahu itu”
Terdiam dan mengerutkan bibir dan keningnya
“bukan aku membuatmu sedih, tapi berfikirlah secara logis. Aku tak mau membuat kamu berharap yang tak pasti dan percuma, bagai kau menanam padi di atas papan”
“bahkan sahabatku sendiri meragukanku” mewek dengan menampakkan muka kerucutnya
“lebih baik kita masuk ke kelas, ayolah Febis. Aku tak suka melihat wajahmu seperti ini”
“kenapa?” Tanya Febis)
“karena kau sahabatku, dan aku tak mau kau meneteskan air mata di depanku lagi”

Febis dan Arisa masuk ke kelas, dan seperti biasa selesai sekolah, Febis membantu sahabatnya menjaga toko. Di sela-sela waktu Febis membersihkkan rak-rak toko. Dan sesaat kemudian Febis melihat cowok yang dia kagumi, hendak menghampirinya tapi seorang perempuan memakai gaun pendek berkulit putih menghampiri cowok itu, dan memanggilnya dengan kata sayang. Bagai petir menyapa matahari yang sedang cerah, sama seperti hati Febis yang tersambar karena kecemburuan. Febis langsung pergi dan menuju meja kasir.
Febis hanya terdiam bagai patung, Arisa menatap Febis dengan keheranan. Arisa tak henti-hentinya memandangi Febis, dan beberapa saat Arisa melihat cowok yang ditaksir Febis sedang bercanda dengan wanita cantik. Sekarang Arisa mengerti kenapa Febis diam bagai patung.
“jika kau ingin pulang karena tak tahan, pulanglah. Aku tak apa sendiri disini”
“tidak, aku tak apa Ris”
Setelah cowok itu ke meja kasir dan membayar belanjaannya, dia pergi dengan wanita cantik itu sambil menggandeng tangan halus wanita itu. Yang Febis lihat hanya senyum manis dan rasa kecemburuan saat itu. Tapi Febis tetap tegar dan masih bisa tersenyum.
“kau memang gadis yang tegar Febis, aku salut itu”
“itu semua karena nasehatmu, bukan?”
“owh, ayolah kita berpelukan”
“kok pelukan?”
“kan kita sama-sama suka teletubies, heheheh” ketawa ngledek
“kamu masih bisa bercanda aja ya, tapi aku tetep sayang kamu Arisa, karena berkat kamu, aku bangakit lagi”
tersenyum sambil memeluk Febis

Kini sejak kejadian itu, Febis lebih mandiri dan optimis dengan percintaannya, walau kekecewaan menghampirinya, tapi tetap semangat menjalani hidup. Karena dia sadar nasehat orang-orang yang menyayangi dia itu jauh lebih penting dari pada obsesi kita yang terlalu tinggi, seperti halnya kita mengagumi cowok yang begitu sempurna fisiknya, tapi hati dan kesetiaan lebih penting, dan kita harus tahu siapa kita.


Oleh : Imah Rokhimah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar