Selasa, 30 Desember 2014

Lelaki Misteri di Tepi Telaga Dewi

Siapakah yang punya pengalaman misteri di puncak Gunung Singgalang? Sepertinya mungkin baru aku, atau ada beberapa di antara para pendaki yang pernah mendengar, melihat, atau bahkan berjumpa sesosok lelaki di tepi Telaga Dewi dalam temaram sinar rembulan di kawasan puncak Gunung Singgalang.


Kami bertiga akhirnya sudah sampai puncak Singgalang.
“Jam 1.30 ” Ucapku dengan napas tersenggal
“wuih ternyata udah sampai nih, Telaga Dewi” sambung Kenyud sambil menjerembabkan bokong di antara lintangan akar dan pohonan lapuk yang sudah rebah.
Kenyud dan aku tampak kepayahan, beda dengan Meeng yang seperti sudah terbiasa dan sudah hapal betul medan gunung ini.
“Eng, berarti kita udah sampai nih..?” imbuh Kenyud lagi sambil menenggak botol air mineral.
Yang ditanya hanya tersenyum dan mengangguk-angguk saja sambil menurunkan kerir yang nemplok menjulang dari punggungnya.

Kenyud, Meeng, dan aku Kunyan adalah nama rimba atau nama julukan tradisi anak pecinta alam, kami dahulunya adalah trio yang kompak di angkatan dan kepengurusan mapala kampus, namun akhirnya setelah lulus, kami dipisahkan untuk meneruskan jalan hidup masing-masing. 5 tahun sudah berjalan, aku dan kenyud malah sudah berkeluarga dan punya anak, tinggal Meeng seorang yang memang masih lajang sampai sekarang, aku dan kenyud menetap dan tinggal di kawasan yang sama di Ibukota, dan masih lumayan di antara kami berdua masih kerap ketemuan, aku di selatan kenyud di wilayah utara ibukota. Sedangkan Meeng, yang aslinya sebenarnya orang pesisir selatan jawa tengah harus merantau ke sumatra.

Kerinduan naik gunung bareng sebenarnya sudah lama kami impikan, tapi baru bisa terlaksana di akhir tahun ini, awalnya dari iseng-iseng Kenyud mendapatkan kontak dengan Meeng dari grup FB MAPALAKU lalu akhirnya dari email dan chating kami sepakat untuk mengisi libur akhir tahun untuk reunian sekaligus mengobati kerinduan hobby lama, dan atas saran Meeng yang kebetulan berdomisili di Sumatra Barat, kami diajak untuk mendaki Gunung Singgalang-Merapi, dengan memulai start dari Singgalang dahulu, alasan Meeng “Baiknya kita coba dari trek yang berat kalian masih pada kuat kagak?” tantangnya saat kami hubungi di bandara Minangkabau lewat ponsel.
“Ayo kita pasang tenda Dumnya kita langsung ngekemp disini saja” saranku sambil mencoba bangkit
“Jangan disini Nyan, terlalu dekat telaga” sergah Meeng
“Iya bener takut ada Tsunami, repot nanti pas besok bangun kita terapung dalam tenda di tengah-tengah telaga hahaha” canda Kenyud menimpali.
Meeng yang masih tampak bugar segera berinisiatif mencari lokasi yang pas, tampaknya cahaya bulan sangat membantu dalam menemukan pelataran yang sedikit lapang dan rata.
Setelah tenda tegak tanpa prosesi api unggun, serta makan dan minum lagi, kami langsung masuk tenda seolah terkena sirep oleh letih dan kantuk kami terlelap berhimpitan dalam kantong tidur masing-masing.


“Aduuh dinginnya” geliatku yang terbangun karena suhu udara yang entah berapa derajat celcius, terang saja kami pun tadi tidak sempat membuat api unggun.
Jam di HP ku baru menunjukan pukul setengah 3 pagi, masih jauh ke shubuh, ah karena terjaga aku justru tersiksa, mendadak perutku tiba-tiba mules oo.. tak tahan lagi, aku buru-buru menggeladah jaketku mencari senter dan mengambil tisu basah serta sebotol air yang tergeletak di sisi ransel, dengan tergesa keluar tenda lalu tersasak mencari rumpun semak yang terdekat.

Tempat nongkrongku agak terbuka sehingga bisa leluasa memandang ke arah tenda yang berlatar telaga. jarak posisi jongkokku ke tenda hanya berkisar 7 meter, dan sekitar 17 meter dari telaga sehingga komposisi ini menyuguhkan suatu pemandangan malam yang indah, dalam paduan temaram sinar rembulan, nuansa yang begitu eksotis namun misterius.

Hajatku pun sudah terpenuhi perut pun sudah terasa nyaman, seperti biasa bersih-bersih seadanya dengan tisu basah dan sebotol air mineral. Satelah itu aku berdiri dan melangkah kembali ke arah tenda, namun tiba-tiba aku dikejutkan oleh sesosok siluet tubuh lelaki yang berdiri anggun di tepi telaga “ah siapa ya.. pendaki yang baru datang kah.” tebakku.
“Ooi.. kemarilah..!!” sekonyong-konyong sosok lelaki di tepi telaga itu memanggilku.
“kemarilah.. kawanilah aku disini, mendingan kita menunggu pagi di tepi telaga ini..”
Aku agak ciut dibuatnya, namun ku coba menstabilkan diri dan menghampiri menyambut ajakannya.
“kenalkan Asen bang” kataku sambil menyebutkan nama asliku dan mendekat mengulurkan tangan
“Jagat” sambutnya hanya mengangkat tanganya setengah melambai.
“Sendiri aja Bang?” dia tidak menjawab malah berpaling membuang muka ke Telaga.
“O iya kami bertiga Bang, temanku berdua sedang tidur di tenda” basa-basiku yang juga tidak dipedulikannya membuatku bertambah keki.
Aku pun akhirnya hanya diam memperhatikan dia dalam jarak satu langkah di belakangnya, aku coba perhatikan sosoknya, perawakannya lumayan profosional dan ideal untuk ukuran pria dewasa taksiran usia di atas 30 tahunan, sayang aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena cahaya bulan yang temaram mulai tersamarkan oleh kabut pekat, dingin, basah, merembes di kulit wajah.
“Sobat, perhatikanlah telaga yang bening, dingin, nan elok ini adalah lambang pujaan dan harapan, yang menjadi angan setiap insan, karena sejatinya manusia adalah pendamba surgawi”
Dia mulai berkata-kata dengan kalimat dan gayanya yang bak seorang pujangga dengan membuka dan merentangkan kedua tangannya menghadap telaga dengan dagu sedikit tengadah, ah suatu suguhan teatrikal yang menarik komentarku dalam hati.
“Sobat, tahukah kamu tempat yang indah seperti ini, dahulu kala sering disinggahi para peri dari kahyangangan.” Lelaki itu diam memberi jeda.
Namun aku pun hanya diam terpaku memperhatikannya tanpa jawaban dan sanggahan, walau dalam hatiku merasa geli dan aneh, kok jadi tahayul begini seperti dongeng yang kubaca dalam cerita-cerita rakyat saja, tapi aku dibuatnya heran, dia seolah tahu apa yang terlintas dalam pikiranku.
“Iya sepertinya kamu pernah dengar legenda Jaka Tarub, ya seperti itulah dulu kala.. para bidadari atau peri, bahkan bisa dijumpai di siang hari, sekarang… ooh sulitnya, semenjak jaman ini sudah tidak punya lagi kesopanan, dimana-mana mata-mata mengintai, segala lokasi dijadikan sarana rekreasi, hingga tidak ada lagi privasi bagi para peri.” Tuturnya melebar dan emosional.
Lalu dia membungkuk, lalu jongkok menekuk lutut menengadah dan menghentak, berteriak serak
“Sudah beribu malam purnama aku berusaha datang ke semua telaga semarcapada, ooh.. akankah dia mau kembali untuk memaafkan kesalahanku dan memuji kesetiaanku” nada suaranya semakin sendu aku terbawa larut dalam teatrikalnya.
“ah siapakah yang di maksud Bang?” tanyaku tanpa suara, tapi seperti tadi dia seolah mendengar suara hati.
“dia adalah salah satu di antaraya, bidadari cantik yang kuperdayai oleh akal dan intrik yang licik.” Jawabnya sesal.
Aku bertambah heran, jangan-jangan ini lelaki titisan Jaka Tarub tebakku semakin ngelantur.
“o ya, kamu seorang pecinta alam bukan? Kau mencintai alam lestari? Maka perlakukanlah alam bak kekasih, cintai, jangan khianati, jangan eksploitasi.”
Aku tertegun diam, mencoba mencerna apa yang dikatakannya, ah apa iya aku seorang pecinta alam, rasanya belum. Aku baru penyuka alam, hanya penikmat keelokannya, pengagum keindahannya, baru sebatas itu komitmenku, sekedar merindukannya, merindukan alam lestari.
Betul-betul aku malu sendiri, kata tersiratnya betul-betul menikam, memang benar kebanyakan manusia sekarang datang ke alam hanya untuk senang-senang belaka, berekreasi, lalu tanpa malu dan rasa bersalah mengotori dengan sembarangan membuang sampah-sampah kemasan, hingga ke sampah keji ‘maksiat’. Berbeda dengan manusia dahulu, yang menjadikan gunung, rimba, goa, Sungai, sebagai guru mencumbunya dalam sikap semedi, refleksi, olah rasa dan pikir ‘mentadaburi’.
Dalam hanyut merenung, tiba-tiba ada tangan yang dingin dan kuat menepuk dan menggoncangku.
“hei ngapain, tidur apa ngelamun ..?” Serunya.
“Astagfirullah,” pekikku terkesiap menatap kenyud yang tegak di sampingku.
“Si Meeng, si meeng mana Nyan..” tanya Kenyud sambil mengambil posisi jongkok ke arah telaga.
“bukannya ada di tenda” kataku heran sambil melihat kesana kemari memastikan keadaan sekitar.
“engga liat tuh, mungkin pergi setor di rumpun adelwis hehehe, ayo kita sholat shubuh duluan aja.” Candanya ringan tanpa beban.
Aku sendiri masih dibuatnya bingung dan terkesima dengan kejadian yang barusan dialami, kemanakah lelaki itu perginya.., halusinasikah aku, atau… Hiiy bulu kudukku mulai berdiri, aku pun tergesa-gesa segera berwudhu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar