Hari ini tidak seperti biasanya. Selepas shalat subuh berjamaah Ummi mengajakku pergi marathon. Maklum, Ummi sekarang sedang mengandung adekku, jadi ummi memintaku untuk menemaninya marthon. Kata orang-orang supaya mudah melahirkan, Ummi harus sering-sering berjalan kali, makanya ummi memutuskan untuk pergi marathon hari ini, mumpung hari minggu. Aku setuju saja, karena aku memang suka jalan-jalan. Lagian, kasihan ummi jika harus aku biarkan jalan sendirian. Sekitar pukul setengah enam kami berangkat. Kami berangkat diam-diam agar tidak terdengar gaduh. Karena jika kami gaduh, pasti si bungsu najla akan merengek-rengek minta ikut. Segera kukenakan Jacket training hijau favoritku lengkap dengan kerudung berenda. Ummi mengenakan jubah polos warna ungu, dan kerudung ungu yang lebar.
Kami mulai berjalan melewati rumah-rumah, gedung olah raga dan perkantoran, kebetulan rumah kami berada di pusat kota. Ummi berjalan begitu pelan, aku harus sering-sering berhenti untuk menyamakan langkah dengan ummi. Memang, aku orangnya nggak sabaran, apalagi ummi berjanji akan membelikanku Ketupat pitalah tek mun, nanti. aku senang sekali. Ingin rasanya aku berlari-lari agar segera sampai di warung tek mun. Ketupat pitalah tek mun telah tersohor di kota kecil kami, ada begitu banyak orang yang ingin membeli, sehingga kami harus mengantri, dan aku tidak mau jika tidak kebagian ketupat pitalah yang lezat itu, aku meminta ummi untuk berjalan lebih cepat,
“Ayo dong mi. Nanti kita tidak kebagian ketupat pitalah nya.” Ucapku
“Kakak yang sabar ya, ini ummi jalannya udah paling cepat.” Sahut ummi.
Aku bersungut-sungut, sambil berdo’a dalam hati agar aku nanti kebagian ketupat itu. Otakku mulai berputar-putar mencari ide, agar aku dapat segera ke warung tek Mun.
“Ummi, biar kakak saja ya, yang beli ketupatnya. Ummi tunggu di rumah nenek aja” Jelasku, kebetulan jarak antara rumah nenek dengan warung tek mun itu tidak jauh. Jalan menuju warung tek mun melewati gang ke rumah nenek.
“Ya sudah, ini uangnya,” ucap ummi, lalu menyerahkan selembar uang sepuluh ribu.
Aku menerimanya dengan senang, segera aku berlari menuju warung tek mun. Sedangkan ummi berjalan menuju rumah nenek.
Akhirnya aku sampai di warung tek mun. Ternyata benar perkiraanku, Orang-orang ramai sekali, lebih-lebih orang dewasa. Aku harus menyelinap dari kerumunan orang tersebut sehingga bisa muncul di dekat Tek mun si penjual ketupat. Aku beringsut mendekat.
“Tek, ketupatnya dua bungkus ya” ucapku.
“Sebentar ya nak,” ucap tek mun. sedang matanya tidak beralih dari ketupat yang sedang dipotongnya. Tek mun selalu mendahulukan orang yang lebih dahulu datang, Aku mencoba bersabar menunggu.
Satu persatu tek mun melayani pembeli yang telah mengantri lebih dulu. Aku yakin, yang sedang tek Mun bungkus kali ini adalah untukku, tek mun memasukkan dua bungkus ketupat di tangannya ke dalam kantung plastik, kemudian menyodorkannya. Baru saja aku akan meraih bungkusan itu, tiba-tiba sebuah tangan dengan cepat telah merebutnya lebih dulu, aku melongo.
“Aku datang lebih dulu”, cibir orang itu kepadaku. Kemudian berlalu begitu saja. “jelas-jelas aku datang lebih dulu,” fikirku. Aku kesal sekali. Aku melihat seorang di sebelahku menerima bungkusan dari Tek Mun. Lagi-lagi aku melongo. Terlalu!. Orang ini jelas-jelas baru saja datang, ia menyerahkan uang enam ribuan lalu melenggang pergi tanpa merasa bersalah.
“Tek, tadi aku datang lebih dulu” ucapku tercekat.
Tek mun menoleh “Maaf nak, etek tidak lihat” ucapnya singkat.
“Masih ada kan tek?” harap ku.
Mau berapa bungkus nak?
“dua” ucapku
“Habis nak” ucap tek mun kemudian, setelah melonggok ke dalam panci.
Habis? Tanyaku. Lidah ku kelu.
“coba etek tengok dulu ke dalam” ucap tek mun. kemudian menghilang di balik pintu.
Aku menggoyang-goyang kakiku yang sudah terasa penat berdiri. Seraya berharap dalam hati, semoga ketupat itu masih ada. Tidak ada lagi orang yang mengantri. Hanya ada segelintir orang saja yang sedang duduk menyantap bubur. Sebagian lagi, saling mengobrol.
Tak lama, Tek munpun kembali. “Ada nak, tapi cuma untuk satu bungkus, gimana?”
“Ya deh tek. Bubur kacang ijonya saja dua.” Ucapku akhirnya.
Tek mun membungkus dengan cepat. Aku bersyukur, setidaknya rencana makan ketupat hari ini tidak batal. Aku bisa makan berdua dengan ummi nanti. Aku ambil langkah besar-besar, agar segera sampai di rumah nenek. Aku sudah tidak sabar.
—
Aku mengetuk pintu beberapa kali, tak lama terdengar seorang dari dalam membukakan pintu.
“dari mana Khansa?” ucap bang thareq.
“dari tempat tek mun”, sahutku seraya melepas sepatu.
“Abang juga mau kesana, masih ada kan? Kakek pengen ketupat” jelas bang Thareq, ia meraih selopnya di rak sendal.
“Habis bang, ini aja Cuma dapat satu” Jelasku menunjuk kantong plastik di tangan. aku segera masuk, aku melihat ummi sedang duduk di dekat ranjang kakek, ummi menoleh.
“Thareq, nggak usah beli, Ini khansa sudah sampai. Khansa mana ketupat bagian ummi kasih buat kakek saja”
Aku melongo, Ummi meraih kantung plastik di tanganku, lalu membawanya ke dapur. Aku terdiam. Lama.
“Khansa…” Kakek menyapa.
Aku menyalami kakek. Tidak seperti biasanya kakek berbaring begini. Kelihatannya kakek sakit. Aku merasa iba melihatnya. aku mengambil duduk di sebelah kakek, kemudian mulai memijit lengannya. Kakek tersenyum kepadaku.
Ummi pun datang, dengan semangkuk ketupat dan segelas air di tangannya. Sepertinya ummi menyadari bahwa ketupatnya cuma satu. Namun ummi diam saja, tak bicara apa-apa. Kakek mengambil posisi duduk dan mulai menyantap ketupat. Aku hanya menatap kakek. Rupanya hari ini aku gagal makan ketupat. Sedih sekali.
Kakek menoleh “Khansa mau ketupat?” Tanya kakek.
Aku menggeleng “Nggak, kakek makan saja” jawabku. Kakek pun melanjutkan makannya. Aku sudah ikhlas kok, ucapku membatin. Sebagian dari diriku protes. Tapi, hatiku jauh lebih besar. Aku yakin, aku ikhlas.
—
Aku baru saja pulang sekolah. Hari ini aku pulang agak sore dari biasanya. ada pelajaran tambahan di sekolah. Aku capek sekali, aku membuka tali sepatu di depan pintu. Kemudian masuk, dan menghempaskan tubuhku di sofa, aku membuka kerudung dan mulai mengipasi wajahku dengan Koran yang ada di meja.
“Kakak udah pulang?” suara ummi tiba-tiba mengagetkanku.
“Sudah mi, ummi mau kemana?” tanyaku melihat ummi dengan pakaian rapi.
“Ummi sama ayah mau jemput kakek, kakek mau tinggal disini. Kakak tolong ummi rapikan kamar tamu ya” jelas ummi sambil memasang kaus kakinya.
“Ya mi. nanti kakak bersihkan” sahutku kemudian.
Sejak hari itu rumah kami mendadak jadi ramai, setiap hari saudara ayah datang bergantian melihat kakek. Ayah memiliki 9 saudara. Bisa dibayangkan betapa ramainya rumah kami. Mereka selalu datang membawa banyak makanan. Aku suka sekali. Kadang mereka membawa sate, pecel lele, martabak mesir, nasi goreng dan banyak buah-buahan. Aku dan adik-adik hanya senyum-senyum saja, karena makanan-makanan itu lebih banyak kami yang makan ketimbang kakek. Pasalnya setelah saudara-saudara ayah itu pergi, kami langsung menyerbu kamar kakek. Lalu kami akan bergantian memijit kakek. Kakek hanya tersenyum saja melihat tingkah kami. Dan selanjutnya dia akan bilang,
“Khansa, itu ada makanan. Makan sama adek-adek ya” begitu ucap kakek acap kali dan setelah itu tiba-tiba kami mendadak kompak dak berteriak “Yes” bersamaan.
Sebenarnya aku masih tidak mengerti kenapa kakek lebih memilih tinggal di rumah kami. Ketimbang dengan rumah saudara ayah yang lain yang rumahnya jauh lebih besar dan nyaman. Rumah kami kecil dan berisik, karena keempat adekku masih kecil-kecil. Tapi tak mengapa, kedatangan kakek ke rumah benar-benar membawa kebahagiaan tersendiri bagi kami.
Di rumah kami hanya ada satu TV. Agar kakek tidak suntuk TV dipindahkan ke kamar kakek. TV kami tidak menarik. Bukan karena TV nya jelek. Melainkan karena siarannya yang hanya menyiarkan TVRI. Ayah bersikeras tidak mau membelikan kami digital. Sebagai gantinya ayah membelikan kami VCD. Sekali seminggu ayah akan menyewakan satu atau dua kaset untuk kami tonton. Jika satu kaset telah selesai kami tonton, kami harus menunggu seminggu kemudian agar dapat menonton kaset yang berbeda. Benar-benar menyebalkan, bukan. Namun itu tidak berlangsung lama. kakek datang, hanya berselang beberapa hari, keadaan berubah. Suatu sore tiba-tiba aku terkaget-kaget saat menemukan digital di kamar kakek. Kami senang sekali. Akhirnya kami bisa nonton kartun setiap hari minggu, tanpa harus bertandang ke rumah tetangga, dan Ayahku tidak bisa ngomong apa-apa.
Suatu sore seusai shalat magrib, aku menyempatkan diri untuk melihat kakek. Kakek terlihat tidak seperti biasa, kakek diselimuti kain berlapis-lapis. Kakek menoleh, menyadari kedatanganku,
“Khansa mau pijit kakek?” Tanya kakek padaku.
“Enggak kek, Khansa mau bikin PR dulu,” sahutku. Kemudian beranjak ke kamar.
—
Khansa, Khansa bangun. Shalat subuh! Sayup-sayup terdengar suara ummi. Dengan mata setengah terpejam aku bangkit, turun dari dipan dan membuka pintu kamar kamar. Aku heran. Pemandangan tampak tidak seperti biasa,. Di ruang keluarga kulihat tikar permadani sudah terhampar. Ada nenek yang sedang duduk disana.
“Nenek tidur disini ya?” Tanyaku.
“Iya” ucap nenek pendek. Aku pun segera berlalu menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Aku mengambil air wudhu dengan tenang. lalu tiba-tiba seorang mengagetkanku, “Kak” rupanya itu adekku Syaza. Aku mematikan keran air.
“Apa?” tanyaku heran.
Syaza mendekat, sedikit berbisik “Kakek meninggal kak” ucapnya matanya berair.
Sontak aku berlari menuju kamar kakek. Benar, itu kakek. Terbujur kaku di ranjangnya, Matanya terpejam. Tangannya terlipat di atas dada, sebuah kain pendek mengikat kepalanya dari dagu hingga ujung kepala. Aku luruh. Tak bisa berucap apa-apa. Air mataku mengalir begitu saja. Dadaku sesak seolah ingin berteriak, tapi aku tahan. Aku menangis tak bersuara memandang kakek. “Kakek sudah pergi khansa, harus ikhlas” ucap sebagian diriku. Aku menggeleng. “Aku tidak sanggup, aku benar-benar tidak bisa ikhlas kali ini!” Aku bukannya tidak rela kakek pergi, aku hanya menyesali diriku ini. Setiap waktu aku selalu berusaha menyayangi kakek. Tanpa disuruh, tanpa kakek minta, aku selalu ada dan sedia membantu kakek, tapi mengapa? “semalam itu adalah permintaan kakek yang terakhir Khansa” batinku berbisik. Tak ada seorang pun yang tahu. Tidak ummi, tidak pula adiknya. Ini hanya antara dirinya dan kakek “kek, khansa sayang kakek” ucapku parau. Namun kini kakek benar-benar diam, tak merespon. Kakek tidak menoleh. Matanya tetap terpejam.
Oleh : Suhayla Zhafira
Tidak ada komentar:
Posting Komentar