Jumat, 30 Januari 2015

Sinyo

Berulang kali aku menghubungimu tetapi berulang kali pula hanya mesin penjawab telepon itu yang selalu menjawab panggilan teleponku, seperti ini bunyinya: telepon yang anda tuju sedang di luar jangkauan. aku bingung beberapa hari ini telepon mu sering tidak diangkat dan sms pun kadang malas sekali kau membalas. Tak ada pulsa kah kamu atau memang sudah bosankah kamu berteman denganku yang hanya seorang tukang cucur ini.

Sinyo namanya Pria berumur 25an ke atas yang selalu datang untuk membeli kue cucurku. iya sinyo itu suka sekali mampir dan membeli kue cucur buatan aku dan ibu yang selalu kami jual pagi hari, setiap akan pergi bekerja. seperti kemarin pagi dengan kemeja hijau yang begitu rapih karena habis disetrika dan celana bahan hitam: “gemblong.. gemblong” (dia memberiku julukan gemblong karena tubuhku yang bulat seperti kue gemblong tapi sedikit manis karena gula merah yang melapisinya) “met pagi gemblong wah rajinnya ya kamu pagi pagi sudah menjajakan cucur, boleh minta 5 cucur buat sarapanku nih” katanya seraya menyodorkan tempat makan warna putih favoritnya. aku mengambil tempat makan warna putih itu (sinyo memang selalu membawa tempat makan supaya tidak banyak menggunakan plastik katanya sih ikutan go green gitu di kantornya bekerja), aku sempat memastikan lagi: “tadi apa kamu bilang minta? gak salah aku ini kan sedang jualan, nanti aku bisa dimarahin ibuku kalau kamu minta kue cucurku”. Dengan sedikit tertawa dia berkata “iya.. iya.. beli.. begitu aja pake dibahas.. hehe”. Cucur yang aku jual selalu dalam panas, kebetulan sinyo datang pagi jadi cucurnya masih panas: “nih kue cucurnya sudah aku masukkan tapi jangan ditutup ya kalau masih panas soalnya nanti cucurnya tidak enak karena ada air, beri udara sedikit nanti baru tutup lagi kalau sudah tidak terlalu panas”. setelah membayar dengan uang 5000 perak akhirnya sinyo pergi. aku pun kembali menggoreng kue cucur sampai habis dan tentunya sampai habis terjual.

Ya begitulah aku dan sinyo adalah teman sejak masa sekolah dari kami bersekolah hingga sekarang dia sudah bekerja, dia teman yang baik dan kadang menyebalkan.. ya itulah sinyo. baik karena dia selalu rajin membeli cucur buatanku dan menyebalkan jika hanya keinginannya saja yang ingin dituruti, beberapa kali kita sempat musuhan gara gara sinyo yang menurutku sedikit keras kepala itu mengajakku untuk ikut memancing ikan di empang belakang ruamahnya tapi aku bilang aku sedang tidak bisa soalnya lagi gak pengen keluar dan ingin membaca buku seharian di rumah. Tiba-Tiba saja sinyo menarik buku yang sedang aku baca dan melemparkannya ke ubin: “lho.. sinyo” kataku kaget, “kamu kenapa sih? aku sedang membaca buku tapi kenapa kamu lempar bukuku ke ubin?” sinyo pun menjawab “buku tuh bisa dibaca besok, hari ini aku lagi pengen memancing ikan masa begitu saja tidak bisa”. “iya, tapi apa begitu caranya dengan melempar buku yang sedang aku baca ke ubin? kalau buku itu rusak gimana? aku membeli pake uang di tabunganku tau” kataku sedikit kesal dan memalingkan wajah darinya. akhirnya dengan kesal pula sinyo pun pergi meninggalkanku, sejak saat itu aku tak mau bertegur sapa lagi dengannya.

2 minggu telah berlalu tak pernah ku lihat lagi sinyo membeli kue cucur di tempatku. kemana sinyo ya, biasanya dia tak pernah absen. akhirnya aku pun menelpon tapi tidak dijawab dan smsku tidak dibalas. aku pun mencoba datang ke rumahnya tapi tidak ada orang di rumahnya. kulihat paket dan surat kecil di depan pintu rumahnya, sepertinya surat untuk sinyo tapi apa ya isi paketnya, aku tak mungkin membukanya karena itu adalah milik pribadi dan bukan milikku, begitu lancang sekali jika aku membuka paket dan surat orang lain. aku pun kembali ke rumah.

Sesampainya di rumah aku mengambil handphone jadulku dan membuka isi sms “tulisannya seperti ini tadi ada yang bilang kamu ke rumahku, kamu tau gak sih kalau aku sekarang dimana? aku masih di pinggir empang dan menunggumu.. 2 minggu berlalu dan aku masih disini menunggumu di pingir empang ini, tolong aku gemblong… aku baru bisa menelponmu dan baru ada sinyal karena aku kemarin ketiduran dan nyemplung di empang kosong ini”. “apaa sinyo?? benar-benar kamu ini sudah 2 minggu kamu nyemplung di di kolam kosong itu, kenapa bukan teriak minta tolong dan kenapa harus menunggu aku datang”. “sudahlah gemblong tak usah banyak bicara”, tiba-tiba suara sinyo berubah diam: “Tidak perlu lagi gemblong sudah ada keke yang menyelamatkanku” aku bukan tak butuh bantuanmu, tapi sudahlah tak usah lagi. setelah keke menolongku dari kolam kosong ini, kami akan segera menikah. karena aku berjanji siapa yang melihatku pertama kali di kolam kosong ini, jika dia pria akan kujadikan sahabat tapi jika wanita akan langsung ku ajak menikah. ternyata keke duluan dibanding kamu, kamu itu kurang cepat tau”.

Kisah ini memang seperti dongeng cinderella dan hanya ada di dunia khayalan karena mana mungkin sudah nyemplung 2 minggu sempat sempatnya membuat permintaan dan tidak kelaparan di dalam empang kosong itu. itulah sinyo dan kisah nya.

Oleh : Rhema

Tidak ada komentar:

Posting Komentar