Disaat ribuan rintik air mengguyur bumi tempatku berpijak. Ku hanya bisa memandangi indahnya dunia ini lewat bongkahan benda bening yang terpajang rapi di setiap rumah. tiba-tiba, kring kring bunyi handpone jadul ku mengantarkan sebuah pesan baru.
Message: Andi
Sent: 18 dec 2013
Cha, besok pagi jangan kesiangan ya, kita tunggu di depan rumah, awas lelet …
Hmmm ternyata andi, ya dia adalah sahabat ku yang hobi bermain dengan burung dara dan sepeda motornya. Ia adalah sahabat terdekatku. Oya rencana kami besok pagi adalah pergi ke gunung merapi yang terbilang tidak terlalu jauh dari tempat kami. Karena kami tinggal di desa kledung wonosobo. Tepatnya di tengah antara gunung merapi dan merbabu.
“nek cahaya besok pagi mau pergi ke gunung merapi ya, ada tugas ips tentang penelitian batuan yang ada di sekitar gunung merapi, sekalian main bareng sama andi dan ian ya nek,” ucap manis cahaya yang mencoba manja pada neneknya.
“mmm, bagaimana yah? tapi tidak akan berlama-lama kan ca?” gumam nenek.
“enggak kok nek hanya satu hari satu malam, itu pun bareng teman-teman yang lain” sanggah cahaya.
“ya sudahlah, nenek izinkan. Asal kamu jaga diri baik-baik ya? sekarang kamu persiapkan barang-barangnya. Dan nanti malam tidur yang nyenyak ya supaya besok siap” jawab nenek dengan manisnya.
“makasih nek, cahya bakal jaga diri baik-baik kok, lagian kan ada andi dan ian” jawab cahya dengan senyum lebar sambil mencium kening neneknya.
Sudah lama aku tinggal bersama nenek, karena ayahku yang memutuskan untuk meninggalkanku bersama ibu sendiri. Sedangkan ibu bekerja sebagai public relation di kota yang ditugaskan pergi ke luar negeri, sehingga memaksakan ia untuk menitipkan ku bersama nenek di desa ini desa kledung yang awalnya aku tak suka dengan suasana desa yang terpencil juga fasilitas yang kurang canggih. Bertolak belakang dengan kehidupanku yang diberikan ibu di kota sana dengan berbagai kemajuan zamannya. Namun dengan seiring berjalannya waktu, aku mulai menikmati hidupku yang baru dikelilingi dengan hangatnya persahabatan dan petualangan.
Esok hari
“hati-hati cahaya jaga diri baik-baik sayang, jangan lupa tetap solat ya” ingat sang nenek.
“iya nek, dah nenek. Assalamualaikum” jawabnya sambil mencium tangan nenek dan bergegas pergi dengan andi dan ian yang telah menungu dari tadi.
“lama banget ca kamu? Ngapain aja sih? Jangan-jangan kamu ngitung dulu pasir depan rumah sampe lama banget gini” ejek ian sambil berjalan cepat.
“ish, kurang ajar yan kamu. Ya enggak lah tadi aku mencari buku geografi yang kemarin dipinjam andi aku lupa nyimpen” sanggah cahaya.
“dasar nenek-nenek, gitu aja udah lupa, hahaha” ian mengejek cahya lagi.
Dengan muka kesal cahya tak membalas ejekannya, seolah tak peduli.
“sudahlah kalian ini, selalu saja berdebat kita kan sahabat satu sama lain pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya. Harus saling melengkapi” kata andi.
“denger tuh?” gumam cahaya.
“iya di, tadi kan Cuma becanda. Huuu dasar manja” ian membela diri
Itulah ian yang selalu menggoda cahaya, supaya membuatnya kesal. Namun di sisi lain ian adalah siswa terpandai di sekolah kami di SMPN KLEDUNG. Namun di setiap perdebatan kami tidaklah sampai bertengkar dahsyat, karena kami satu sama lain telah mengetahui karakteristik masing-masing yang menjadikan kami bertiga menjadi sahabat.
“ya anak-anak mari berbaris menyesuaikan dengan kelompoknya masing-masing” perintah pak jay.
Pak jay adalah seorang guru musik yang kali ini menjadi panitia sosial bekerjasama dengan bu ina seorang guru geografi. Tak lain pak jay mau membantu acara ini, karena pak jay seorang bujang lapuk yang mendekati seorang bu ina yang sudah lama ditinggal mati suaminya. Suatu kesempatan besar untuk pak jay menjalankan misinya.
“anak-anak disana kita tidak boleh berpencar masing-masing, tetapi kita harus terus bersama partner kita kemanapun, karena sekali kita berpencar dan main-main maka bisa berakibat fatal nantinya. Paham anak-anak?” suruh bu ina.
“paham bu…” jawab anak-anak serempak.
“baiklah sebelum kita berangkat mari kia berdo’a bersama-sama semoga kita diberikan kelancaran oleh allah swt. Berdo’a dimulai” semua serentak membaca al-fatihah.
“selesai. Nah anak-anak silahkan memasuki bus yang telah disediakan sesuai dengan pembagian tempat duduk kemarin” perintah pak jay.
Semua bergegas menuju busnya masing-masing.
“nanda siapa yang duduk di sampingmu?” tanya tiwi seketika.
“cahaya, kenapa memang wi?” ia bertanya balik pada tiwi.
“hah apa? Cahaya? Si anak kota yang belagu dan gak punya ayah? Awas ya nanda, kamu harus pake minyak kayu putih biar gak gatel-gatel tuh duduk bareng dia” cetus tiwi.
“maksud kamu apa wi? Ngehina cahaya yang gak punya salah sama kamu. Gak usah ngajak ribut mulu deh wi. Dasar cuman bisa cari sensasi!” bela ian.
“heh kamu bocah culun yang sok pandai gak usah sok jadi pahlawan buat cahaya deh! Juga jangan kasar ya sama tiwi, kamu berani kasar sama dia berarti kamu harus hadapin aku dulu!” ujar bagas.
“udah deh ian biarin aja mereka, biar terus ngoceh sampe mulut mereka meledak kaya gunung merapi. Toh ngeladenin mereka pun gak kan ada selesainya. Yang ada ngabisin tenaga aja” sanggah cahaya.
“heh maksud kamu apa ca? Oh berani yah sama aku? Kurang ajar kamu!” dengan emosinya tiwi hampir saja menampar cahaya. Namun tertangkis dengan datangnya rico yang membela cahaya.
“kamu sadar gak tiwi, kamu itu cewek? Ada cewek sekasar kamu yang beraninya sama yang lemah. Kamu bayangin kalau kamu di posisi cahaya. Jangan hanya ngandelin apa yang kamu miliki untuk berkuasa. Hargain haknya orang lain untuk hidup dan bersosialisasi dong, toh tuhan aja ngasih kebebasan kita untuk hidup. Kenapa kamu malah ngambil kebebasan itu dari cahaya? Cahaya diem bukan berarti dia takut, tapi dia tau apa yang lebih baik yang harus dia lakukan” bela Rico yang datang tiba-tiba.
Sontak semua terdiam dan tertuju pada geretakan tiwi dan bagas. Tiwi yaps tiwi seorang cewek berparas cantik dan berbadan ideal yang berpacaran dengan bagas seorang anak saudagar kaya yang merasa memiliki apa yang ia mau. Nanda, dia teman baik tiwi yang entah mengapa sifatnya berubah setelah ia kenal tiwi, ia membenciku secara tiba-tiba tanpa sebab. Dan satu lagi ichsan, ia anggota geng bagas. Ia jago berkelahi oleh karenanya banyak yang takut pada ichsan karena ancamannya. ya mereka, mereka adalah segerombolan anak manusia yang merasa memiliki kekuasaan dan tergabung membentuk suatu geng yang biasa disebut “The King”. Mungkin karena mereka berkuasa jadi mereka mengambil kata itu dari filosofi Raja. Sedangkan Rico, Rico adalah murid baru ia pindahan dari surabaya, ia kesini ikut dengan ayahnya yang bekerja di dinas perhutani yang kali ini ditugaskan di desa kledung.
“udah deh gak usah ikut campur rico. Sok bijak banget” cetus ihsan.
“sudah-sudah jangan bertengkar disini, percuma gakan selesai-selesai” sanggah andi yang tiba-tiba ikut campur.
Suasana hening seketika dengan wajah yang tak tau harus berkomentar apa dan hanya bisa terdiam.
“makasih rico, udah membela aku” puji cahaya dengan manisnya.
“santai aja ca, semua itu kewajiban aku juga Sebagai manusia haruslah saling membantu” jawabnya dengan senyuman.
Suasana kembali seperti semula semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Andi tertidur sambil menunggu perjalanan, teman-teman yang lain mengobrol dan bergurau mengabaikan sekitar, bagas dan tiwi berpacaran. Melihat mereka aku hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Sekilas terbesit dalam fikiranku, Rico? Pahlawan kecil buatku yang membuat hati dan pandangan ini luluh dengan tingkahnya seolah telah datang malaikat yang membawa rasa ini padanya. Husss sudahlah abaikan ini hanya anganku yang terlalu tinggi, umurku belum cukup kalau harus berfikir sejauh itu.
Seiring bus melaju dengan semilir angin hutan yang menggiring menghantarkan kami sampai di kaki gunung merapi. Sesampainya disana semua siswa senang, tak terkecuali aku. Aku pun sangat senang bisa sampai disini menghirup oksigen bebas dengan nyanyian pepohonoan rimbun dari daunnya yang bergesekan saling menari menyambut kehadiran kami.
“anak-anak alhamdulillah kita telah sampai, semuanya mari bergegas menuju puncak gunung dan kita dirikan tenda disana. Semua tetap berbaris dalam pletonnya jangan sampai ada yang berpisah” suruh bu ina.
“ayo anak-anak mari kita mulai berpetualang. Lets go!” semangat pak jay.
“ayooooo” jawab anak-anak serempak mempersiapkan petualangannya.
“awas hati-hati anak-anak, gunungnya terjal dan licin” ucap bu ina.
“iya bu, ini licin karena bekas hujan semalam ya bu?” tanya rico yang berada tepat di belakang bu ina.
“ya iya lah rico, masa aja semalam si ichsan ngelumurin dulu oli biar semua licin, ya enggak lah? Sok pandai banget deh” cetus bagas yang tiba-tiba menjawab di belakang.
“hush sudahlah gas, rico kan hanya bertanya baik-baik. Tidak usah diperpanjang!” nada kesal pak jay menjawab.
“oya bu, disana kita akan melakukan apa saja?” tanya andi.
“rencana kita sesampainya disana selain untuk meneliti batuan apasaja yang ada di sekitar kawahnya, kita juga akan meneliti tumbuhan apa saja yang terdapat disana. Karena kita tau kandungan belerang di sekitar kawah biasanya membuat tidak banyak tumbuhan yang dapat bertahan hidup” jawab bu ina dengan lugasnya.
“ohhh begitu, jadi selain untuk belajar kita juga dapat berpetualang dong bu?” sanggah tiwi dengan lugunya.
“iya wi, tetapi berpetualangnya tidak untuk bermain-main. semua harus dilakukan dengan serius dan keterampilan karena beberapa minggu kemarin terjadi sesuatu hal yang membuat sapi-sapi ternak milik warga sekitar tiba-tiba mati. Belum terpecahkan hingga sekarang, oleh karena itu kita harus selalu waspada” nasehat bu ina dengan serius.
“wah, bu berarti pembelajaran kita kali ini berkesan menakutkan?” cetus ian tiba-tiba.
“husss apa sih ian,” jawab cahaya sambil menyeggol ian.
“tidak kok tidak menakutkan, namun menyenangkan dan membuat pelajaran penting buat kalian agar selalu kompak dan gotong royong” sanggah pak jay.
Perjalanan berlanjut
Perjalanan menuju puncak bukanlah hal yang mudah semua perlu kerja keras dan rintangan. Pohon-pohon rimbun, ranting-ranting bertaburan menghalangi jalan ku, tak lupa rasa takut yang mengiringi setiap langkah ku tuk sampai disana. Batu terjal dan tanah merah yang licin tidak menyurutkan nyali ku untuk terus melangkah. Langkah demi langkah menghantarkan kami sampai di puncak gunung merapi. Gunung yang masih aktif dan banyak ditakuti warga masyarakat karena geretakan merapi yang sering terjadi.
“anak-anak kini kita telah sampai, silahkan kalian beristirahat dahulu, sebelum melanjutkan tugas pertama kita” suruh bu ina.
Terlihat anak-anak begitu kelelahan. tetes demi tetes keringat menguyur badan ini. Tak sadar rico di sampingku, duduk dan menyodorkan sehelai saputangan hijau yang bertuliskan namanya. Aku hanya bisa tercengang melihatnya dan aku bertanya pada batinku apakah ini mimpi? Tak lama ku tersadar ini bukan mimpi hangat wajahnya menghangatkan suasana sekelilingku yang saat itu cuaca dingin. Kemudian ia pergi begitu saja menghampiri mala, kemudian duduk di sebelahnya sambil menyodorkan botol air minum. Terlihat dari sudut mataku mereka bergurau dan tertawa lepas. Entahlah, mungkin rico lebih pantas dengan mala, aku kan kesini untuk berpetualang bukan mencari cinta.
“anak-anak mari kita bergegas melakuan penelitian bebatuan dan pepohonan sekitar. Lakukanlah dengan teliti dan terampil bersama kelompok kalian!” perintah pak jay.
Seketika ku tersentak dari hayalku. Dan ku bergegas pergi menghampiri andi dan ian dan segera melakukan tugas kelompok kami. Langkah demi langkah mengarungi pepohonan rimbun gunung merapi, semakin terjal dan curam. Yang tadinya aroma sekitar menyegarkan menjadi menyebalkan dengan bau belerang yang semakin kuat. Aku teringat kata bu ina yang mengatakan pernah terjadi, tiba-tiba ternak sapi warga sekitar mati. Dengan opini itu bukannya menyurutkan niat ku dan kedua sahabatku, tetapi membuat nyali kami semakin penasaran.
“buggg…”
Tiba-tiba ian tersungkur mencium bumi. Tak langsung bangkit namun terlihat ada batu kecil yang mengahadang jalan ian, apa ini? Ada serpihan bubuk berwarna putih yang menyelimuti batu tadi. Dengan penasarannya ian genggam batu itu dan ia baui, namun rasanya asing buat kami menemui benda ini. Terfikir benda aneh macam apa ini yang ada di puncak gunung, namun terlihat seperti bola gas? siapa dan modus apa yang mereka rencanakan? Bukannya takut tapi kami terdorong untuk memecahkan teka-teki ini.
“heh kalian, minggir yah jangan diam di tengah hutan belantara gini. Awas kita semua mau lewat, bukannya ngerjain tugas malah diem gak ada kerjaan!” bagas dan gengnya yang tiba-tiba datang.
“udahlah lewatin aja kali, mereka itu ghaib gak usah dipeduliin” cetus ichsan tiba-tiba.
Kami tak mempedulikan ucapan mereka, Abaikan saja seolah terlewatkan. Kami bertiga seketika terdiam dan kehabisan kata, saling memandangi satu sama lain berfikir, apakah sama fikiran kami saat ini.
“aku tahu…” ucap kami serempak.
“apa yang ada di fikiran kalian? Apa fikiran kita sama?” tanya andi.
“aku rasa ini sebuah misteri yang harus kita pecahkan, mungkin ini yang membuat sapi-sapi itu mati tiba-tiba!” jawab ian serius.
“mungkin, dan sepertinya ini misi kita untuk memecahkan misteri itu” cetus cahaya.
“tapi, bagaimana dengan tugas kita meneliti batuan-batuan?” kata andi.
“mmm, ya sudahlah sekarang kita jalani saja dulu, siapa tau di depan masih banyak petunjuk-petunjuk lainnya” ian memberi saran.
Kami pun bergegas meninggalkan tempat tadi, dan mulai menelusuri jalan selanjutnya. Langkah demi langkah mata kami terus tertuju pada sekitar, melihat siapa tau terdapat benda asing lainnya yang lebih meyakinkan misteri ini.
“hey lihat apa ini?” tunjuk andi pada segerombol daun yang ada di dekatnya.
“sepertinya daun ini terdapat serbuk aneh, tapi ini serbuk apa ya?” tanya cahaya.
“tapi serbuk ini sejenis dengan serbuk yang ada di batu ini” jawab ian sambil menunjuk batu tadi.
“mmm, iya ini sama, baunya pun sama. Apa mungkin ada seseorang di balik misteri ini?” gumam andi.
“bisa jadi ini bukan serbuk biasa, dan sepertinya masih banyak bukti-bukti lainnya. Apa kita mesti lapor pada bu ina dan pak jay?” kata ian.
“menurutku kita jangan dulu lapor pak jay dan bu ina, namun kita telusuri saja kebenarannya. Setelah semua terbukti baru saja kita jelaskan semua ini pada bu ina dan pak jay?” cahaya memberi saran.
Semua terdiam dan mengamati sekitar, sepertinya mereka mulai merencanakan misi selanjutnya. Di sisi lain bagas dan kawannya sedang merencanakan sesuatu untuk menjahili andi, ian dan cahaya. Memang licik akal mereka, bukannya meneliti bebatuan tapi mereka malah berniat jahat pada andi, ian dan cahaya. Seutas tali yang mereka kaitkan pada dua buah pohon yang kemudian mereka tutupi daun-daun kering sehingga tak terlihat, begitu pintar akal licik mereka namun bodoh akal sehat mereka.
“hey stop…” andi tiba-tiba menghetikan kami.
“ada apa sih andi? Kamu ini ngagetin aja!” cahaya menggerutu.
“lihat itu lihat…” andi menunjuk seutas tali yang direncanakan bagas.
“oiya awas, itu ada tali…” tutur ian.
Dannn … “buggg” terdengar mala terjatuh.
“awww, aduh sakittt…” lirih mala kesakitan.
“awas mala, kamu gak kenapa-napa? Sini aku bantu…” kata rico yang menghampiri dan membantu mala.
Sontak semua membantu mala dan memanggil bu ina juga pak jay, terlihat mala terluka pada lututnya, dan yang membuat hati ini sakit adalah saat rico merangkul mala dan mengobati lukanya juga mengusap tangis dari pipi mulusnya. Mengapa aku merasa sakit saat meihat itu? Padahal rico bukan siapa-siapa buatku, apakah aku jatuh cinta? Tapi mana mungkin, aku masih berusia 14 tahun yang belum tau apa itu cinta. Tak sanggup ku membantu mala dari kesakitannya, karena aku pun merasa hati ini tergores dari tingkah rico pada mala. Sambil menahan air mata yang tak terbendung ini, aku pergi dari kerumunan orang menjauh dan menyendiri.
“ca kamu kenapa? Kok nangis?” andi mengejarku dari belakang.
“nggak kok, mataku kelilipan” sanggah cahaya.
“mana mungkin kelilipan sampai segitunya, lagian kan disini tak ada debu atau angin” jawab ian yang tiba-tiba hadir merangkulku.
“ayolah ca cerita kamu kan sahabat kita, kita bakal nerima setiap keadaan baik ataupun buruk mu, satu sama lain saling melengkapi” andi merayu cahaya untuk bercerita.
“apa kamu cemburu melihat mala dengan rico?” tanya ian.
“enggak kok hanya sedikit kelilipan” bela cahaya.
“ayolah cahaya, kita ini bersahabat sudah lama dan sudah mengetahui karakteristik masing-masing. Tak perlu lah kamu menutup-nutupinya” sanggah ian.
“hanya saja hatiku tiba-tiba sakit melihat rico merangkul mala, sedangkan aku baru saja mengenal rico yang tadi menjadi pahlawan kecil ku. Aku kira ia memberikan perhatian lebihnya hanya padaku, namun itu bukan hanya padaku, malah lebih perhatian pada mala. Hatiku seperti mawar merah yang sedang merekah dan tiba-tiba tertiup angin besar sehingga semuanya gugur begitu saja” cerita cahaya sambi menangis.
“hmmm, sudahlah ca umurmu baru 14 tahun, wajar saja untuk bercinta tapi masa depan masih panjang. Kita kan kesini untuk menjelajah gunung, bukan menjelajah hati” kata andi yang mencoba memotivasi cahaya.
“iya ca, perjalanan kita masih panjang, lagipula disini masih ada ko cowok ganteng dan keren” ian menggoda cahaya sambil menunjuk dirinya.
“apaan sih yan? Malesin banget deh, udah ah” jawab cahaya sambil mengelap air matanya.
“hehe, bercanda ca udah ah jangan bersedih lagi, inget kita kan masih punya misi yang belum terpecahkan” ian mengingatkan cahya.
“iya ayo cahaya, go go… fighting, ayo bangkit hapus air matanya dan lupain ajalah, cinta dinommorduakan aja” andi yang kembali memotivasi.
Di sisi lain bagas dan kawannya hilang seketika entah kemana, karena mereka memang merasa kalau umpannya itu salah sasaran. Sedangkan pak jay sedang mencari pelakunya, yang jika ketahuan bisa-bisa mereka dihukum.
“siapa yang melakukan ini? Ayolah jujur, tak ada gunanya kalian menyembunyikan kebohongan ini!” bu ina dengan nada kesal menasehati anak-anak.
“bagas, ichsan, tiwi dan nanda mana?” tanya pak jay.
Semua mata mencari ke setiap penjuru dan tak terlihat satu pun batang hidung mereka. Namun sepertinya rico tau tempat mereka bersembunyi saat ini.
“nah itu dia pak mereka!!!” rico menunjuk ke sebuah gua.
“hey kalian sedang apa disini? Kalian tak bisa kabur, ayolah jujur daripada kalian tak mengaku malah akan mendapat hukuman yang lebih parah” pak jay menghampiri dan memarahi mereka.
“ada apa pak, kita disini sedang mencari batuan…” bagas mencoba mengelak.
“sudahlah kalian jangan mencoba mengelak sudah jelas-jelas tertangkap tangan!” cetus bu ina dengan marahnya.
Mereka semua digiring ke posko dan disana mereka dinasehati secara baik-baik oleh bu ina.
“tiwi, bagas, ichsan, nanda. Ibu tak menyangka kalian senakal ini, apalagi kamu tiwi dan nanda kalian di kelas cukup berprestasi dan lugu saat belajar. Taunya kalian senakal ini jika di luar kelas” kata bu ina yang benar-benar marah.
“enggak ko bu, ini hanya salah paham saja, saya tidak melakukannya, saya hanya membantu saja bu” tiwi membela diri.
“sama saja tiwi, sudahlah apalagi kamu bagas dan ichsan kalian yang membuat tiwi dan nanda jadi begini. Apa modus kalian membuat jebakan seperti itu?” sanggah bu ina.
“mmm, tidak bu kami tidak bermaksud apa-apa hanya untuk main-main saja kok” ichsan mencoba membela diri.
“mana mungkin hanya untuk main-main, pasti ada modus lain, ayo jujur kalau tidak jujur kalian semua akan mendapatkan balasannya nanti” cetus pak jay ikut campur.
“sumpah pak-bu kami tidak ada maksud apa-apa” jawab mereka serempak.
Tetap saja mereka tak mau mengaku, ya sudahlah yang pasti allah maha tau. Tiba-tiba andi, cahaya dan ian menghampiri bu ina.
“bu maaf, sebenarnya kami tadi selama perjalanan menemukan dua benda asing ini” cahaya menunjukan benda asing tadi.
“apa ini ca? Kalian menemukan dimana?” tanya bu ina.
“entahlah bu, tadi kami bertiga menemukan itu di semak belukar saat mencari bahan penelitian tadi” jawab andi.
“ini seperti bola gas dan serbuk gas yang sudah mengkristal, dan baunya aneh menyengat sekali” kata pak jay mencoba menjelaskan.
“mungkin itu pak yang menyebabkan ternak beberapa minggu kemarin mati secara tiba-tiba” ian menambahkan kata pak jay.
“oya ini bisa jadi karena kematian itu misterius dan tidak ditemukan barang bukti satu pun” sanggah bu ina.
“dan mungkin benda ini bisa dijadikan barang bukti, apa kita serahkan saja benda ini?” saran cahaya.
“iya ini sebuah penemuan besar, kalian hebat andi, cahaya, ian. Bapak salut pada kalian” puji pak jay.
“ibu pun salut pada kalian, mari kita bergegas serahkan benda ini agar segera diselidiki” saran bu ina.
Semua bersorak pada kami, kebanggaan buat kami bisa memecahkan misteri ini, dan melakukan petualangan singkat ini. Dan saat ku berbahagia, kebahagiaan itu bertambah saatku tau bahwa rico dan mala adalah sepupu, apalagi saatku tau bahwa rico yang menyiapkan surprise setangkai bunga edelweis yang asli ia petik dari puncak merapi yang ia berikan padaku saat itu, saat api unggun sungguh terasa mimpi tapi ini bukan mimpi.
Disaat semua bersorak sorai bahagia, tidak untuk bagas dan kawan-kawan mereka lebih cepat meninggalkan posko dan lebih memilih pulang padahal saat itu adalah acara api unggun. Disaat mereka bergegas untuk pulang, saat melewati sungai mereka semua tiba-tiba terpeleset jatuh ke dalam sungai. Sehingga membuat mereka kedinginan dan mengurungkan niatnya untuk pulang, semua mentertawakan mereka.
Oleh : Tiya Purnanita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar