“Aku sedih Sar”, isakku kepada Sarah
“memang apa masalahmu dengan Ilham yass?, bukannya kamu udah temenan lama sama dia..? kok sekarang tiba-tiba jadi marahan gini sih” jawab Sarah seakan ikut bersedih
“Aku tak mengerti apa maksud Ilham Sar, dia sudah aku anggap sebagai saudara kandungku sendiri, tetapi justru dia gak bisa mengertikanku.”
“Diiyass…, sejak kapan Ilham gak ngertiin kamu. Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau dia itu sungguh pengertian sama kamu?, dan itu yang membuatmu untuk menjadikannya sebagai saudara kamu?. Mungkin ada orang lain di balik bertengkarnya kamu sama Ilham…” ucap Sarah seraya menatapku
Aku semakin sedih, mendengar perkataan Sarah terhadapku, ada orang lain di balik bertengkarnya aku dengan Ilham. Apa yang diucapkan Sarah benar, aku merasa kesal dengan perempuan yang sudah mempunyai pasangan tetapi dia menyukai Ilham dan mencintainya. Aku kesal terhadapnya, dia cemburu padaku, karena aku sangat akrab dengan Ilham sangat dekat dengan Ilham. Dia juga melarang Ilham untuk berkomunikasi dengan perempuan lain. Baik itu lewat sms, telfon, facebook, chating, atau yang lainnya. Aku kesal perempuan itu. Aku bencciii!!!
“iya Sar. Benar apa katamu, ada orang lain di balik bertengkarnya aku sama Ilham. Veny, ya Veny namanya. Veny itu teman Ilham. Dia sudah punya pasangan, tetapi dia mencintai dan menyayangi Ilham. Dia mengatur-ngatur hidup Ilham. Dan Ilham mau diatur olehnya, karena dia hanya ingin menghargai Veny, dia gak mau Veny cemburu terhadapku cuman karena masalah sepele. Itu awal debat ku dengan Ilham Sar,”
“apa?, perempuan yang udah punya pasangan masih nyukain laki-laki lain?. MEMALUKAN!!! dan gara-gara dia kamu jadi bertengkar sama Ilham?!. Diyass, aku sebagai teman kamu ikut merasakan apa yang kamu rasakan sekarang yass, kamu pasti tertekan dengan sifat Ilham. Aku juga gak rela yas, aku gak rela kalau kamu bertengkar dengan Ilham karena seorang perempuan.”
“iya Sar. Aku merasa begitu tertekan saat dia bilang “kalau kamu gak maafin Veny, mending kamu juga jangan maafin aku” ”. aku merasa terinjak Sar, dia begitu pedulinya dengan Veny. Tetapi dia gak memperdulikanku yang sudah menganggapnya saudara. Aku sedih sar, aku sedih”
“ya udah yas. Kamu jangan nangis lagi, aku akan membantumu”
“terimakasih Sarah. Kamu memang teman terbaikku”
Di dalam kelas aku hanya mencoret-coret buku kosongku, aku merasa jenuh dengan perasaanku saat ini. Kejadian tadi pagi sungguh menenggelamkan hatiku. Aku kecewa dengan apa yang Ilham perlakukan kepadaku. Tanpa ku sadari, aku menuliskan apa yang ada dalam hatiku dengan apa yang aku rasakan saat ini
Sama sekali gak ada niatan untuk bertengkar denganmu Ilham. Hanya saja aku gak rela kalau kamu diatur-atur sama perempuan yang jelas-jelas sudah punya pasangan. Aku gak rela kamu dikekang sama dia. Apalagi saat aku tahu bahwa kamu gak merasa terkekang olehnya dan memerintahku agar mengerti kamu. Okeh, alasan kamu bisa aku terima. Kamu bilang bahwa kamu hanya menghargai perasaan perempuan itu dan gak mau kalau dia cemburu hanya karena hal sepele. Ngehargai sih ngehargai, tapi gak usah segitunya. Emang di mata kamu aku tuh siapa!?. Padahal kamu udah aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Kamu udah bisa menghilangkan sifat burukku yang gak bisa shalat tepat waktu. Tapi semenjak aku mengenalimu aku sudah bisa shalat tepat waktu. Itu semua karena kamu Ham, karena kamu.
Aku pun menyerahkan lembaran yang bertuliskan isi hatiku itu kepada Sarah.
“Sar”, panggilku sembari mengulurkan tangan
“kenapa yas?, ini apa?” jawab Sarah dengan rasa penasaran dengan lembaran itu
“tolong sampaikan surat ini kepada Ilham, kamu sudah tau kan nomornya?. tolong sampaikan Sar, biar dia tau seberapa kecewanya aku terhadap dia” jelasku pada Sarah
“baik Yass, aku akan mengirimkan surat ini. Demi kamu Diyas. Karena kamu adalah sahabat terbaikku”
“terimakasih Sarah…”
Saat aku berpelukkan dengan Sarah, datanglah Rere. Dia menanyakan tentang aku yang tengah menangis di pelukan Sarah
“Diyass… kamu kenapa, dann… Sar, ini kertas apa?”
Aku dan Sarah pun menceritakan tentang semua yang tengah aku rasakan dan menjelaskan tentang surat itu. Berlinanglah air mata Rere saat ia mendengarkan apa yang aku ceritakan. Butiran air matanya seakan menggambarkan sebuah pembelaan terhadap seorang sahabat. Aku merasa bahagia punya sahabat seperti mereka. Sarah dan Rere.
Hari semakin sore dan kini bergantilah menjadi malam yang sunyi. Malam yang sepi, karena aku tidak lagi ditemani oleh Ilham. Aku merasa sedih karena tidak ada 1 message pun yang terkirim di sellular ku. Tanpa ku sadari adzan Isya pun berkumandang. Aku segera ambil air wudhu dan melaksanakan shalat fardu Isya. Aku berdo’a pada Yang Kuasa agar aku diberikan ketabahan dan kekuatan untuk menghadapi problem ini. Aku berdo’a kepada-Nya agar suatu nanti Ilham mengabariku dan menyelesaikan problem ini.
Setelah aku shalat dan berdo’a, aku pun kembali merebahkan tubuhku di atas kasurku. Aku membayangkan masa-masa dulu saat bercanda ria dengan Ilham. Hingga lamunanku terbuyar karena sebuah message dari seseorang. Dan, apa?, Ilham, ilham sms aku. Dia mengirimkan sebuah surat yang tadi aku buat. Dia menanyakan apa benar itu surat dariku untuknya. Spontan aku pun bilang “YA”. Itu tandanya Sarah sudah menyampaikan amanatku untuk Ilham. Ilham pun merasa tertegun hatinya, seakan luluh dengan perkataanku dalam surat itu. Bersama-sama aku berbincang dengan Ilham untuk menyelesaikan problem. Dan akhirnya dengan surat itu yang mengantarkan aku dan Ilham dalam kedamaian.
Setelah beberapa menit, aku mendapat message dari Sarah
“Ciiye, yang baikan.”
“Sarah, apaan sih kamu.”
“hmmm, bilang makasih kek ama aku”
“iya Sarah… makasih yaa”
“iya, sebagai balasannya nanti traktir aku ya., hehee…”
“oke deh. Kamu maunya apa. Krupuk SP?”
“apaan tuh SP..”
“Super Pedeeesss. hahaa,”
“ciiye ciiye. Udah bisa ketawa, gak nangis-nangis lagi. Seneng deh jadinya.. eh yass, jangan krupuk SP.., es Cream aja lahh yang kerucut…”
“es nya aja Sar… gak usah pake cream…, kalau gak kerucutnya aja deh. Nanti aku bikinin”
Sarah pun tidak membalas sms ku. mungkin dia udah tidur, atau dia kesal karena kekonyolanku untuk ngasih dia kerucut. Hahahaa, kalau dia temanku setidaknya dia mengerti kalau aku hanya bercanda dengannya.
Hari pun sudah larut malam, Alhamdulillah tadi sudah aku persiapkan apa-apa yang harus aku bawa besok. Dan, saatnya TIDUUUURR…
Malam telah berlalu. Dan pagi pun datang menjemputku.
Suara-suara burung menemaniku dalam suasana pagi
Fajar seakan menyingsing dan berganti matahari
Embun di atas daun selara menyejukkan pagi
Adanya pagi ini menuntun kesemangatan untuk menyambut hari
Dari awan lembut
Dari langit biru
Akan aku sambut
Hari yang baru
Secarik kertas menuntunku untuk membuat kata-kata. Dengan pena aku menggoreskannya. Dengan fikiran kosong aku menjadikan bayang-bayang khayalan menjadi sebuah kata. Ku rangkai kata-kata menjadikan kalimat. Ku jadikan kalimat-kalimat menjadi bait puisi pagiku.
Pagi ini aku lebih semangat karena aku sudah baikan dengan Ilham. Semua itu karena temanku. Aku harus segera sampai di sekolah untuk mengucapkan terimakasih pada Sarah.
Dalam lagkahku yang terburu-buru, aku pun sampai di depan gerbang sekolahku. Aku segera memasuki kelasku.
“hay Sarah, hay rere…”
“Hayyy…” jawab mereka bersamaan
“Sarah, makasih ya. Berkat kamu aku udah gak ada beban lagi”
“iya Yass, sama-sama.”
“aku jadi ikut senang deh Yas, Sar..,” sambung Rere
“iya, makasih juga ya Re”
“sama-sama Yass..”
Aku, Sarah, dan juga Rere kembali bersama melewati hari. Karena di antara kami sudah gak ada yang galau lagi. Saat waktu istirahat tiba. Aku lupa menanyakan Puisi yang juga kemarin aku buat setelah surat itu. Karena semalam aku beritahu Ilham mengenai puisi itu. Dan Ilham memintaku untuk mengirimkan puisi itu.
“Sar, Puisi yang kemarin mana?, sama kamu kan?”
“yah, yass.., udah aku buang”
“apa?. ah kamu. Itu puisi berarti banget buat aku Sar. Ilham juga memintaku untuk mengirimkan puisi itu, kamu buang di mana”
“sory Yass.., itu aku buang di tempat sampah”
Dengan perasaan yang gak karuan. Aku segera melihat ke tempat sampah itu. Aku berlari bersama Rere. Aku dan rere memikirkan gimana caranya agar aku bisa kembali mendapatkan puisi itu.
“Re, gimana ini?”
“kita tumpahin semuanya aja dulu. Trus kita cari.”
Kami pun segera membawa tempat sampah itu dan menumpahkannya di Tempat pembuangan sampah. Dengan mata yang jeli aku melihat beberapa kertas. Aku bingung, banyak sekali kertas yang ada. Tetapi aku ingat 1 hal. Bahwa kemarin aku menulis puisi itu di kertas berpetak. Dan yeah. Aku menemukannya.
“re, re. liat deh.., ini puisinya re, masih ada…,”
“syukur deh kalau begitu. Ya udah ambil”
Aku yang biasanya jijik dengan sampah. Tapi sekarang aku gak tau kenapa seketika mengambil kertas itu di bawah tumpukan-tumpukan sampah. Mungkin karena aku begitu pedulinya dengan Ilham. Ya. Aku peduli dengannya karena dia adalah sosok kakak yang baik di mata ku.
Huftt, aku dan Rere pun kembali ke kelas. Sesampainya di depan pintu kelas yang kebetulan kelasku di lantai 2. Aku menengok ke arah Rere. Aku terkejut, karena dia tidak membawa kembali tempat sampahnya.
“Re, tempat sampahnya mana”
“hahhaa, aku lupa Yass..,”
“hahhaha, Rereee…”
Aku dan Rere pun kembali ke lantai dasar untuk mengambil kembali tempat sampahnya. Hahahaa.., sungguh ini satu-satunya hal terkonyol yang pernah aku lakukan. Mulai dari mencari kertas puisi yang sudah dibuang dua hari yang lalu. Sampai kelupaan membawa kembali tempat sampah yang baru saja dibuang isinya.
Oleh : Kiki Widyasari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar